Divine Word Missionaries

Arnold Janssen
Spirituality Center


AJSC


Back to

AJSC Index

Members' Area

Site Map

Home


(Verbum SVD, fasciculus 2-3, volumen 44, 2003)

HIDUP DALAM ROH -
SPIRITUALITAS ARNOLDUS JANSSEN

Peter McHugh, SVD
(Diterjemahkan oleh P. Jose Goopio,SVD – Nenuk-Timor)

Ciri khas paling dasar dari spiritualitas Arnoldus adalah kesadarannya akan kehadiran Allah yang berdiam dalam hati manusia dan yang menghantar dia menjadi terbuka kepada Roh. Penulis merefleksikan misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia sebagaimana dihayati oleh Arnoldus. Ada tiga pengalaman yang bisa disebut yang memainkan peranan signifikan dalam perkembangannya. Penulis menunjukkan bagaimana kasih khas Arnoldus kepada Roh Kudus membimbing dia bertumbuh dalam komitmennya kepada Yesus dan misiNya, yang tergambar dalam sikap Arnoldus terhadap kehidupan religius, Ekaristi, dan Sabda Allah. Hal itu menolong dia bertumbuh sebagai pribadi dan menemukan kemuliaan wajah Allah dalam alam, dan khususnya dalam menghargai martabat setiap pribadi. Penulis menawarkan beberapa refleksi tentang apa maknanya bagi kita zaman sekarang, khususnya dalam terang kapitel jenderal-kapitel jenderal belakangan ini. Ia melihatnya sebagai suatu panggilan untuk meneladani Kristus dalam kontemplasi misioner, belaskasihan, dan pertobatan, sambil kita menggalang komunio semua orang.

"Pada musim semi," kata Arnoldus Janssen, "kita melihat bagaimana tanaman-tanaman, terbentuk indah, tumbuh dari tanah yang gelap, kotor, dan segera berdiri di hadapan kita dalam segala keindahan warna-warninya dan dengan mata berbinar menatap kita mesra bagai utusan-utusan dari Allah. Dari mana datangnya mereka itu? Jari Allah, Roh Kudus, sedang bekerja di sini " (1901, 634-5).1

'Utusan-utusan dari Allah.' Arnoldus melihat kasih Allah dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. Inilah dasar persatuannya dengan Allah dan kasihnya bagi sesama manusia; inilah sumber antusiasme misionernya. Konstitusi-Konstitusi menggambarkan Arnoldus sebagai "seorang manusia yang imannya sangat dalam dan ia seorang pendoa, yang sadar akan kehadiran Allah yang berdiam dalam hati dirinya dan ia terbuka terhadap kebutuhan dunia" (SSpS 508). Kesadaran akan kehadiran Allah yang berdiam dalam hati manusia, yang menjadikan dia terbuka terhadap Roh, adalah ciri khas paling fundamental dari spiritualitasnya. Dalam artikel ini saya ingin merefleksikan tentang misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia seperti yang dialami oleh Arnoldus dan melihat apa maknanya bagi kita zaman sekarang.

Tidak seperti orang-orang kudus lain, perkembangan rohani Arnoldus tidak ditandai oleh pengalaman pertobatan khusus. Visi dasarnya pada masa tuanya sudah ada sejak ia masih imam muda. Tetapi, kita bisa mengidentifikasikan tiga pengalaman yang memainkan peranan signifikan dalam perkembangannya.

1. Arnoldus – Utusan Hati Kudus: Mengulurkan tangan

Setelah tahbisannya sebagai imam pada bulan Agustus 1861 ia pergi mengajar di sebuah sekolah menengah kecil di Bocholt. Arnoldus bukan guru yang luar biasa hebat dan siswa-siswa juga merasa ia tidak mudah didekati, sekalipun ia cukup dihormati dan sudah pasti ia menjadi pengganti P. Waldau sebagai Rektor. Tetapi selain tugas mengajar ia juga makin terlibat dalam Kerasulan Doa. Ia menghabiskan waktunya yang luang maupun liburan untuk mengajak makin banyak anggota untuk mendoakan intensi-intensi Hati Kudus.

Sesungguhnya, kasihnya kepada Hati Kudus menguatkan dia dalam pelayanan imamatnya. Ia menulis: "Sabda Allah tidak puas dengan mencintai kita dalam ke-AllahanNya; ia ingin mencintai kita dalam kemanusiaanNya yang diembannya, dalam Hati Kudus Yesus. KasihNya ini besar dan berkobar, setara dengan kasih abadi Allah sendiri. Jika anda melihat besi yang cair mengalir keluar dari pot pencair, anda akan berpikir bahwa tidak mungkin membayangkan sinar yang lebih panas lagi. Tetapi matahari jauh lebih panas. Matahari adalah gambaran dari energi kasih dalam Hati Kudus."2 Ketika Arnoldus keluar dari lingkungan yang sudah dikenalnya untuk mengulurkan tangan kepada orang lain, cakrawalanya mulai mengembang sampai visinya menjadi luas secukupnya sehingga merangkul seluruh dunia. Inilah dinamika dasar Kristen bahwa kasih kepada Allah, yang ditampakkan dalam kasih konkret kepada sesama, membuat seseorang menjadi lebih seperti Kristus. "Hanya kasih sanggup memperlebar hati manusia," tulis Arnoldus (1882, 431). Yang pasti ialah hatinya diperlebar dan dipenuhi dengan suatu kerinduan untuk berbuat makin banyak untuk misi Gereja sedunia.

2. Arnoldus – Duta Kasih Ilahi: Melintasi Perbatasan-perbatasan

Ia memutuskan untuk meninggalkan kemapanan jabatannya sebagai guru dan pergi ke sesuatu yang belum diketahuinya. Pada bulan Agustus 1873 ia menjadi kaplan dari Suster-Suster Ursulin di Kempen, dan tugas itu memberikan dia lebih banyak waktu untuk meng-edit majalah misinya Bentara Kecil Hati Kudus. Ia lebih berhasil sebagai penerbit dari pada sebagai guru. Ia menantang Gereja Jerman untuk berbuat sesuatu lebih untuk misi. Khususnya ia mendorong supaya didirikan suatu rumah misi Jerman. Ia tidak berencana untuk mendirikannya sendiri; tetapi ia bersedia menjadi pengantara, memanfaatkan majalahnya untuk mengarahkan panggilan dan dana kepada siapa saja yang akan mendirikannya. Ketika ia menyadari, lewat desakan Uskup Raimondi dari Hong Kong, bahwa Allah menginginkannya menjadi pendirinya, ia menerimanya dengan lapang hati dan percaya sepenuhnya pada Allah, sekalipun disertai keraguan. Dalam hal ini keraguannya beralasan karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki sifat-sifat yang biasanya diharapkan dalam diri orang yang mau memimpin usaha seperti itu. Salah satu dari teman kelasnya kemudian berkomentar: "Di antara seluruh kawan kelas kami Arnoldus Janssenlah yang akan terpilih terakhir untuk menangani tugas seperti itu." Membuka rumah misi di Belanda karena ada Kulturkampf di Jerman menjadikan risikonya menjadi lebih besar. Masyarakat lokal meramalkan bahwa dalam enam bulan usaha itu pasti akan gagal dan ia akan terpaksa kembali ke rumah. Arnoldus sendiri menulis: "Saya pergi ke Steyl dengan memikul sebuah batu besar di belakang saya." Kesehatannya tidak baik dan sekalipun ia mendapat restu dari beberapa uskup, ia mendapat hanya sedikit dukungan praktis. Guyonan dan komentar sinis dari teman kelasnya menyakiti hatinya, tetapi Arnoldus memberikan kesan, seperti nabi Yeremia, bahwa ia tidak ada pilihan lain selain harus mengikuti suara batinnya. Ia kemudian menggambarkan masa ini: "Saya sepertinya diseret di belukar berduri." Apa yang membuat dia berkanjang ialah imannya kepada Allah. "Kasih kepada Allah yang sejati memampukan kita untuk bertahan dalam segala kesulitan dan penderitaan" (Peraturan SSpS tahun 1891, I 13,5).

Mengambil risiko ini adalah bagian dari jawabannya secara umum terhadap kasih Allah baginya yang membanjiri dirinya, suatu sikap yang membentuk seluruh hidupnya. Sesungguhnya tema sentral dari konperensi-konperensinya dan doa-doanya adalah kasih Bapa yang mengutus PuteraNya dan Roh Kudus untuk membagi-bagikan kepada kita karunia-karunia kebaikan kasihNya (1891, 330). "Ketiga Pribadi menunjukkan kasih mereka kepada kita dengan cara yang baru sama sekali dan dengan cara yang belum pernah terdengar. Sang Sabda, Putera dari keabadian, dengan menjadi manusia; Roh Kudus dengan datang dan berdiam dalam hati manusia, Bapa surgawi dengan mengutus kepada kita kedua kekasihNya untuk menyatakan kasihNya kepada kita " (1907, 659). Bagi Arnoldus ini bukan wahyu di masa lampau, melainkan wahyu yang berkelanjutan, yang diberikan secara baru setiap hari karena Roh Kudus yang berdiam dalam hati manusia - "Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita lewat karunia-karunia Roh Kudus yang memampukan kita untuk berseru, ‘Abba, ya Bapa’" (Rom 5:5; 8:15). Misi Sang Sabda Ilahi dan Roh Kudus ialah mempersatukan kita dengan Allah sebagai putera puteriNya. Demikianlah – dalam suatu khotbah pemberangkatan ke misi, ia berkata: "Misionaris adalah duta khusus kasih ilahi. Mereka harus mewartakan perbuatan-perbuatanNya yang mengagumkan dan membangun kerajaan Allah di mana kuasa Allah belum meraja " (1893, 572).

Sejak dini hubungannya dengan Allah selalu sebagai Allah Tritunggal. Hal itu mencengkam setiap aspek dari hidupnya dan memberikan inspirasi bagi karya besar hidupnya; dan hubungannya menjadi lebih personal dan mendalam, suatu relasi kasih kepada Allah sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ia ingin mengkontemplasikan dan menyembah Tritunggal Mahakudus pada tiga takhtanya, yaitu, di surga, dalam Ekaristi, dan takhta mistik (dalam hati manusia). Mungkin suatu gambaran yang aneh bagi kita zaman sekarang, namun ia menyoroti dua cara dasar di mana kita manusia berelasi dengan Allah dan yang keseimbangannya selalu perlu kita jaga. Transendensi Allah, yaitu, Allah sebagai Pribadi yang berbeda dengan kita tak terbayangkan, Yang Lain secara total, di hadapanNya segala kata manusiawi dan bayangan tak ada arti sama sekali, karena "tak seorang pun pernah melihat Allah" (Yoh 1:18). Namun juga imanensi Allah, Allah yang dekat dengan kita, memelihara hidup kita, yang menggunakan pengalaman kasih manusiawi untuk menggambarkan paling baik relasiNya dengan kita. Gambaran ini berusaha mengungkapkan prinsip fundamental dari kehidupan rohani: Allah bukan hanya ada di luar sana, di luar diri kita; Allah ada juga dalam kedalaman diri kita, "lebih dekat pada kita dari pada lubuk hati kita" (St. Agustinus).

Untuk memahami relasi intim ini dengan Tritunggal gambaran biblis tentang Allah berdiam dalam hati manusia sangat menawan hati Arnoldus – Allah dalam diri kita; kita dalam Allah. Doa motonya, "Vivat Cor Jesu in Cordibus Hominum! – Semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua orang," sudah dipakai bahkan sebelum ia mendirikan rumah misi, dalam suatu suratnya tertanggal 19 Maret 1875. Pada hari peresmian rumah misi doa ini ditempatkan di dinding sebagai moto rumah misi baru.

Kapitel Jenderal Pertama pada tahun 1885 merekomendasikan doa moto Arnoldus: 'Vivat Deus Unus et Trinus in Cordibus Nostris! – Semoga Allah Tritunggal hidup dalam hati kita!"3 Suatu pemahaman mendalam yang membuat misteri Allah tinggal dalam hati manusia menjadi sangat memperkaya Arnoldus adalah kesadarannya bahwa Tritunggal Mahakudus hidup terus dan bekerja dalam diri kita sama seperti pada Ke-AllahanNya. Allah Tritunggal, katanya, tidak tinggal dalam diri kita seperti hantu tinggal dalam kubur, tetapi ia hidup dalam diri kita. "Dalam kekudusan dan kasihNya, Bapa surgawi sejak kekal memperanakkan Putera dan mereka berdua menghembuskan Roh Kudus" (1891 Rule, 4). Dinamika ilahi ini di mana ada saling memberi diri secara total dan saling menerima berlanjut dalam hati kita dan kita ditarik ke dalamnya. Dalam Roh Kudus kita disatukan dengan Yesus dalam kasihNya kepada Bapa. Kita terus menerus menerima kasih ilahi dan hidup sebagai putera puteri, dan memberi respons dengan menyembah dan menyerahkan diri.

Bukan hanya sebagai individu tetapi sebagai tubuh Kristus, kita terserap ke dalam misteri dinamika kasih ilahi. Para Suster Adorasi Abadi dengan adorasi abadi mereka memberikan kesaksian bahwa seluruh Gereja terpanggil untuk menghayati suatu kehidupan adorasi, memberi diri dan menerima.

Berkomentar atas teks, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti Firmanku, dan Bapaku akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia " (Yoh 14:23), Arnoldus berkata: "Adalah suatu kebiasaan yang sangat berguna mencari Allah dalam hati kita... Tritunggal Mahakudus memenuhi jiwa dengan rahmatNya, seperti cahaya memenuhi sebuah kristal atau api memenuhi besi, dan ia meng-ilahi-kannya... Karena Ia menginginkan kita menjadi peserta dalam kodrat ilahinya, Putera Tunggal mengambil kodrat kita supaya sebagai manusia Ia bisa meng-ilahi-kan kita." Lalu Arnoldus menggambarkan relasi baru ini: kepada Bapa sebagai puteri dan putera, kepada Sang Putera sebagai saudara kita, kepada Roh Kudus sebagai milikNya (kemudian ia lebih senang menggunakan istilah 'putera' atau 'anak' dan 'mempelai'). "Oleh karena itu betapa penting kita berdoa kepada pribadi-pribadi Tritunggal Mahakudus dengan kasih yang percaya sepenuhnya seperti seorang anak" (1881, 453). Ini sudah menjadi ciri khas dalam hidup doanya.

Kekaguman Arnoldus pada misteri kehadiran Allah pada takhta mistik di hati kita, yang menjadikan kita anak-anak Allah, tidak hanya menghantar dia untuk mengungkapkan rasa terima kasihNya dalam doa, hal ini juga menjadi sumber terdalam dari panggilan pribadinya sebagai pendiri dan misionaris. Dalam suatu meditasi untuk para Bruder tentang "Takhta Mistik" ia menyatakan bahwa kebesaran panggilan misioner terletak pada mendirikan takhta-takhta mistik ini dalam hati semua orang. “Iman datang dari mendengar sabda Kristus” (Rom 10:17). Betapa dahsyat kata ini bagi para anggota Serikat Sabda Allah! Sabdamu, yang dibentuk dari Sabda Yesus, dimaksudkan untuk mentobatkan orang – untuk menyalakan cahaya, menghalau kegelapan, ...membangun bait-bait bagi Allah yang hidup" (1890, 455). Dalam suatu retret sebelum pemberangkatan ke misi ia berkata: "Merenungkan tentang ketiga takhta Allah akan menolong kita melihat betapa bernilainya karya misioner kita. Bayangkan bahwa kita bisa melihat ke dalam hati semua orang dalam keadaan berahmat. Kita akan melihat hati mereka diresapi dan diliputi cahaya dan pada pusatnya Allah Tritunggal. Betapa indah pemandangan itu! Tetapi kita akan melihat juga bahwa jumlah mereka itu sangat terbatas di banyak negara dan kita merasa terdorong untuk menolong" (1903, 296). Dorongan untuk menolong inilah yang menggerakkan dia untuk melakukan semampunya untuk misi. Karena untuk tujuan seperti ini tak ada pengorbanan yang terlalu besar. Sesung-guhnya korban dan penderitaan dianggap karunia-karunia, "tanda-tanda kasih Allah bagi kita manusia," karena dalam persatuan dengan Yesus korban kita akan membantu menggalang kerajaan kasih Allah yang setia. Ia suka menyoroti point ini ketika memberikan salib misi kepada misionaris yang akan berangkat ke misi.

3. Arnoldus – Hamba Kasih Abadi: Kembali ke Rumah

Pengalaman ketiga bukanlah peristiwa tunggal melainkan suatu pendalaman relasinya dengan ketiga Pribadi, lewat kasih khusus kepada Roh Kudus. Arnoldus telah lama mempunyai kasih mendalam kepada Roh Kudus sejak awal. Namun menghayati misteri Allah yang berdiam dalam hati manusia membuat dia mencintai Roh Kudus semakin dalam. Dalam Peraturan SVD pertama pada tahun 1885 ia menyebut Roh Kudus sebagai "Bapa Serikat kita." Pada hari Senin, 3 October 1887, di Gereja Vinsensian di Wina, ia mempersembahkan diri "secara total dan selama- lamanya" kepada Roh Kudus. Ia melihat ini juga sebagai model untuk pertumbuhan bagi para SVD dan pada pesta Pentekosta berikutnya (1888) ia mempersembahkan Serikat kepada Roh Kudus. Setahun kemudian ia mendirikan Kongregasi SSpS dengan sebutan Abdi Roh Kudus, dengan tujuan khusus "mencintai Roh Kudus sebagai Roh kasih " (SSpS 1891, II, 2.1).

"Saya mempersembahkan diriku sepenuhnya kepada Roh Kudus, jiwa dan raga, sebagai korban dan memohon kepadaNya rahmat untuk mengenal kebesaran kasihNya dan saya ingin hidup dan mati bagi Dia saja... Roh Kudus adalah jantung Gereja dan juga jantung Allah, di dalam Dia Allah mencintai DiriNya dan juga mencintai manusia. Semoga Roh Kudus memberikan saya rahmat untuk hidup dan tinggal dalam hati kudus ini dan bertindak selalu sesuai dengan kehendak suciNya.”4
Kita bisa melihat betapa penting persembahan dirinya ini bagi Arnoldus secara pribadi oleh fakta bahwa duapuluh tahun kemudian ia masih bisa mengingat tanggal dan tempat. Ia menggambarkannya sebagai salah satu rahmat terbesar dalam hidupnya. Itu merupakan suatu pengalaman yang menyentuh hatinya secara sangat dalam dan membentuk pandangan rohaninya untuk sisa duapuluh satu tahun hidupnya. Itu merupakan suatu pengalaman yang menghantar dia mengulurkan tangan kepada orang lain. ‘Dalam hati ini’ ia temukan tempat kediaman sejati dan menemukan di sana juga seluruh kaum manusia. Itu juga menguatkan dia dalam keprihatinan yang menguasai seluruh hidupnya, yaitu, mengenal dan mengikuti kehendak Allah.

Apa yang mengesankan tentang cintanya kepada Roh Kudus yang semakin berkembang ialah bahwa cinta itu menghantar dia kepada kasih yang lebih besar kepada Bapa dan kepada Yesus sebagai Hati Kudus. Cinta itu menghantar dia menemukan secara lebih meyakinkan Allah Tritunggal di pusat keberadaannya, dan gerakan ke dalam batinnya ini sekaligus menghantar dia keluar kepada manusia. Ia menegaskan bahwa Roh Kasih adalah daya yang menghidupkan bagi misi.

Suatu nama yang sering ia gunakan untuk Roh Kudus adalah Kasih atau Kasih Abadi "karena, Ia berasal dari kasih Bapa dan Putera, Ia adalah kasih Ke-Allahan. Dalam Dia Allah mencintai diriNya; dalam Dia Allah mencintai dan memberkati makhluk ciptaanNya... Semoga kita mengakui sepenuhnya kasih suciNya dan sebagai balasan dengan kesetiaan teguh mencintai Dia dengan sepenuh hati sebagai anak dan pengantinNya" (SSpS 1891 I, 6). "Menjadi anak dari Kasih Abadi seseorang harus menginginkan dengan sungguh-sungguh kasih suci dan berusaha bertindak atas dasar kasih dari pada atas dasar akan mendapat imbalan. Sebagaimana api bertahan karena bahan bakar, demikian pula kasih bertahan oleh korban yang dipersembahkan demi pengabdian kepada Kasih Abadi " (I, 13.1-2).

Roh Kuduslah yang menegakkan kerajaan kasihNya dalam hati kita dan hati semua orang (I, 13.2). Arnoldus menyukai ungkapan, 'kerajaan kasih.' Karena Roh Kudus adalah Allah yang mengulurkan tangan dalam kasih, Arnoldus melihat Roh Kudus sebagai daya misi. Ia berdoa: "Semoga kuasa Bapa menguatkan kita, semoga kebijaksanaan Putera menerangi kita, dan semoga kasih Roh Kudus menghidupkan kita dan semua orang selama-lamanya. Semoga pengenalan dan kasih Allah menerangi dan menggembirakan semua orang di dunia."5 Yesus merangkum misiNya sebagai membawa kehidupan secara berlimpah, yang berarti mengenal Bapa dan Yesus (Yoh 10:10; 17:3). Inilah hidup sejati, tujuan hidup kita manusia. Dua doa moto Arnoldus mulai dengan kata 'Vivat!' – Semoga Allah, semoga Hati Yesus, hidup atau menjadi hidup dalam hati kita. Arnoldus berdoa supaya kita bisa hidup dalam Roh, "Roh pemberi hidup, hidupkanlah kami!" 'Vivat! - Hiduplah' merangkum spiritualitasnya dan harapan misionernya untuk dunia.

4. Kehidupan dalam Roh

'Vivat! - Hiduplah!' Kehadiran Roh menghidupkan dalam segala aspek pribadi manusia, dan kita melihat ini dalam pertumbuhan Arnoldus sebagai pribadi. Bertepatan dengan minat Arnoldus yang berkembang dalam karya Roh Kudus bisa itemukan usaha yang makin besar untuk menjadi orang yang secara personal lebih memberi perhatian kepada orang lain.

Kelembutan watak yang bisa dilihat pada masa tuanya nampaknya lebih dari pada hanya karena pematangan usianya. Keterbukaannya terhadap Roh Kudus membantu dia mendengarkan kritik-kritik dari rekan-rekannya. P. Gier, umpamanya, pernah memberikan dia teguran 55 halaman! Ia berusaha secara khusus untuk memperbaiki diri. "Saya berdoa setiap kali sesudah Misa untuk memperoleh rahmat untuk mengerti bagaimana seharusnya seorang bapa yang bijaksana atau hati seorang ibu yang bijak bertindak terhadap bawahannya."6 Anton Hilger, sekretaris pribadinya, memperhatikan bahwa Arnoldus mengunjungi samasaudara yang sakit lebih dari pada superior lain yang pernah ia kenal. Nampaknya ada hubungan antara Arnoldus membuka hatinya kepada Roh Kasih dan keluwesan dan kebapaan yang makin berkembang. Kasih yang dimintanya kepada Roh Kudus menjadikan dia pribadi yang semakin mengasihi. Dan, nampaknya, usaha-usahanya untuk menjadi lebih lembut dengan orang lain selanjutnya membakar api kasihnya kepada Roh kasih yang lembut. Roh Kudus membuka kita kepada orang lain; kita berjumpa Roh Kudus dalam orang. Pada pesta namanya Arnoldus berkata kepada komunitas: "Saya mohon kepada Hati Kudus dan kasih abadi Roh Kudus untuk membagikan dengan saya kasih ini. Dan jika anda ingin memberi saya sesuatu, maka tolong saya berdoa untuk rahmat mendapat bagian dari kepenuhan kasih ilahi dalam hatiku yang dingin. Dan apa yang saya pikirkan di sini pertama-tama bukanlah cinta kepada Allah tetapi kasih bagi anda kalian. Betapa saya bersyukur kepada Tuhan Allah dan kepada anda jika anda mendoakan saya untuk mendapat kasih seperti itu" (1901, 610-11). Bagi mereka yang mengenal dia pada masa mudanya, Gier berkata, Arnoldus nampaknya berubah menjadi pribadi lain pada masa tuanya. Aspek Arnoldus inilah tentunya memberikan semangat kepada kita – jika ia bisa melakukannya, kita juga!

Kepercayaannya yang penuh keyakinan pada kedekatan Roh Kudus memberikan Arnoldus keberanian untuk menghadapi tantangan-tantangan baru. Hal ini sudah menjadi jelas dalam inisiatifnya pada pembukaan rumah misi. Dan hal itu membantu dia juga menjadi seorang pionir dalam banyak hal penting – memulai percetakan, menggalang sistem promotor, belajar antropologi dan ilmu-ilmu sosial,7 pelatihan khusus untuk para Bruder dan Suster, sebuah kolam renang di St. Gabriel (yang pertama di sebuah seminari di seluruh Eropa Sentral!). Ia tidak membuat keputusan-keputusan cepat-cepat tetapi selalu menyerahkannya kepada bimbingan Roh Kudus dan minta nasehat kepada orang lain. Jika ia percaya bahwa tindakan tertentu adalah kehendak Allah, ia berjalan terus dengan keberanian dan keyakinan. Menjadi terbuka kepada Roh Kudus membuat dia kurang prihatin tentang apa yang akan dikatakan orang tentang dia. Keterbukaannya terhadap cara-cara baru haruslah menjadi ciri khas kita pengikutnya sekarang (Konst. SVD 104).

5. Wajah Yesus

Ciri khas yang paling menonjol dari perkembangan rohani Arnoldus pada masa tuanya adalah kasihnya kepada Roh Kudus. Persembahan dirinya adalah "untuk seumur hidup." Berapa kali Roh Kudus disebut dalam catatan Arnoldus "Catatan Pribadi tahun 1906" menyatakan peranan signifikan yang dimainkan oleh Roh Kudus dalam hidupnya, sehingga "ada suatu macam keberanian mengidentifikasikan diri dengan Roh Kudus dan kata-katanya sepertinya berasal dari Roh Kudus" (A. Rohner).8 Namun apa yang tidak kalah menonjol bagi saya ialah bagaimana kasih kepada Roh Kudus membawa dia lebih masuk ke dalam misteri Tritunggal Mahakudus dan membuat dia lebih menegaskan panggilan misionernya ialah meneladani Kristus. Kasihnya kepada Yesus sebagai Hati Kudus tetap berperan sentral. Baris terakhir dari surat perpisahannya kepada Suster-Suster klausura, tertanggal 8 Desember 1908, berbunyi: "Saya minta kepada anda kalian untuk mengingat saya dalam doa, tetapi saya ingin anda berdoa secara khusus supaya Hati Kudus Yesus tinggal dalam hati semua orang.”9 Kata paling akhir dari mulut Arnoldus ketika ia berbaring sekarat adalah nama 'Yesus.' Bisa dikatakan bahwa makin dekat ia kepada Roh Kudus makin nampak jelas pula pribadi Yesus dan Bapa. Hal ini nampak dengan pelbagai cara.

Hidup Religius. Sekalipun ada tanda-tanda bahwa Arnoldus telah memikirkannya sebagai satu kemungkinan sejak awal, pengikraran kaul religius bukanlah bagian asli kehidupan komunitas perdana di rumah misi. Janji ketaatan dan hidup selibat imamat sudah dianggap cukup. Lalu mengapa komunitas memilih memasukkan hidup berkaul itu dalam Kapitel Jendral Pertama pada tahun 1885? Sikap Arnoldus jelas. Ia melihat hidup religius sebagai jawaban terhadap kasih pertama Allah terhadap kita dalam tiga cara: yaitu, dedikasi total dirinya dan segala kekuatannya kepada Allah, sebagai pembaktian seluruh hidupnya, dan sebagai korban sempurna bagi Allah. "Ketiga nasehat injil membentuk suatu korban yang setotal mungkin dalam hidup ini. Korban itu suci karena dipersembahkan untuk berkenan kepada Allah dan untuk membaktikan diri kepadaNya sebagai suatu korban bakaran. Tetapi ia harus dipersembahkan di atas altar kasih. Ya Allahku betapa pantas Engkau mendapat persembahan seluruh diriku! Semoga kerinduan kasihku akan terpenuhi!" (1893, 95). Ia ingin menempatkan hidup religius dalam konteks trinitaris dan ia juga menekankan dimensi apostoliknya: "Kepada siapa saya telah membaktikan diri? Kepada Bapa untuk memenangkan putera dan puteri bagiNya, kepada Putera untuk memenangkan saudari dan saudara dalam citraNya, kepada Roh Kudus untuk bekerja demi tercurahnya rahmatNya ke atas dunia" (1883, 69).

Di atas segalanya ia melihat hidup religius sebagai meneladani pemberian diri Kristus dalam inkarnasinya, hidupnya, misinya dan wafatNya. Ia melihat ketiga kaul bagai tiga paku yang mengikat kita pada salib Kristus demi hidup dunia. Peraturan tahun 1891 menyatakan: "Inti dari Peraturan kita adalah sebagai berikut: dengan hidup miskin, murni dan taat samasaudara (samasaudari) meneladani hidup Yesus Kristus, memuliakan Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan memaklumkan Sabda Allah di bumi, khususnya di antara orang-orang kafir." Peraturan SSpS memasukkan frase signifikan “sebagai perempuan." Dalam dua kapitel jenderal terakhir hal ini telah menjadi aspek penting dari spiritualitas SSpS dan implikasi-implikasinyanya telah direfleksikan. Maka Kapitel Jenderal 1996 menekankan, umpamanya, tantangan kepada Suster-Suster sekarang ialah memperdengarkan "suara-suara kita atas nama semua perempuan dalam situasi yang menekan mereka dan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan" (hal. 32). Dalam suatu upacara pemberangkatan ke misi Arnoldus mengungkapkan tugas para Suster yang mau berangkat: "Kamu membawa Tuhan Yesus dalam hati kamu. Sebagai religius kamu telah membina kasih khusus bagiNya. Pergilah sekarang untuk memaklumkan kasih ini... Ajarilah perempuan-perempuan dan anak-anak Afrika supaya mencintai Yesus" (1897, 586).

Ekaristi Kudus. Kasih Arnoldus bagi Roh Kudus memperkuat juga cintanya kepada Ekaristi kudus karena hal itu menghantar dia menghargai peranan Roh Kudus dalam sakramen ini. Dalam suatu doa pada tahun 1889 ia memohon: "O Roh Kudus, berikan kepada mereka [orang-orang dari agama lain], kepada siapa para pewarta SabdaMu belum datang, buah-buah rahmat Yesus dalam Sakramen Mahakudus, maupun belaskasihan dan kebaikanNya, dengan kasih seperti yang membuat Sabda yang menjelma berdiam dalam hati kami dan memberikan diriNya kepada kami sebagai makanan. Kami menyapa Engkau, O Roh Kasih, bersama dengan Bapa dan Putera dalam Sakramen Kasih. Amin" (AN 56, p. 146). Arnoldus menggambarkan belaskasihan dan kebaikan pada pintu tabenakel di Gereja di Steyl. Tangan-tangan Bapa memegang Yesus yang mati yang berbaring di pangkuanNya, menunjukkan PuteraNya kepada dunia, dengan Roh Kudus melayang di atas. Orang bisa tersentak oleh kasih Bapa yang penuh belaskasihan bagi dunia. Gambar ini membantu kita memahami kepercayaan Bapa Pendiri bahwa Ekaristi adalah perayaan kasih yang berbelaskasihan ini "untuk kehidupan dunia," dan orang merasa tertarik untuk memberi respons kepada cinta seperti itu dengan meneladani Kristus yang tersalib. Di atas altar Arnoldus menempatkan lima jendela kaca berwarna indah untuk mengingatkan komunitas supaya membawa ke dalam Ekaristi masing-masing dari kelima benua dunia. Ekaristi merangkul seluruh dunia.

Doa yang baru saja dikutip mengungkapkan keyakinan Arnoldus bahwa daya Ekaristi mampu mentransformasikan dan dengan demikian bersifat misioner, sama seperti yang dinyatakan oleh pintu tabernakel dan jendela dari sudut pandang yang lain. Bagi dia Ekaristi adalah hati dan pusat setiap komunitas misioner. Di dalamnya Arnoldus mengalami kasih Allah untuk dunia dan memberi respons terhadap kasih itu bersama Yesus, dan ia diberdayakan oleh Roh Kudus untuk membawa kasih yang menghidupkan ini kepada semua orang. Ekaristi adalah sesungguhnya "daging Kristus untuk kehidupan dunia... Barangsiapa makan dagingku dan minum darahku tinggal di dalam Aku dan Aku tinggl di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku" (Yoh 6:51.56). Maka Ekaristi adalah juga terutama perayaan misteri Allah yang hidup dalam hati manusia – Allah di dalam kita, kita di dalam Allah – dan dari panggilan misioner kita untuk membagi-bagikan kasih ini dengan semua orang.

Sabda Allah. Kitab Suci adalah tempat khusus untuk mengalami kehadiran Roh Kudus yang menghidupkan, yang adalah "inisiator Kitab Suci, karena di dalamNya orang menulis Sabda Roh Kudus" (1907, 658). Teks-teks yang sering dipakai Arnoldus adalah teks-teks yang berbicara tentang kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita sebagai anugerah Bapa dan Putera. Dalam Konstitusi perdana (1885) nama ‘Sabda Allah’ sudah diartikan menunjuk kepada:

"Sabda Bapa, yang adalah Putera;
Sabda Putera yang menjelma, yang adalah Injil Yesus Kristus;
Sabda Roh Kudus, yaitu, seluruh Kitab Suci dan sabda para nabi, para rasul dan para imam sejauh mereka telah mewartakannya di bawah bimbingan Roh Kudus." (1891 Peraturan, 1.1)

Kitab Suci adalah Sabda Kasih Bapa yang berkelanjutan bagi kita dalam Roh. "Betapa dahsyatnya," tulis Arnoldus, "kata-kata Kitab Suci. Semoga para samasaudara kita sungguh-sungguh menghargainya, khususnya bagian-bagian yang, jika kita bisa katakan, diresapi sangat dalam oleh Roh Allah, karena mereka berbicara secara sangat jelas tentang keagungan Allah dan keajaiban karyaNya yang Ia prakarsai di atas bumi ini dalam GerejaNya yang suci." Sangat penting khususnya, tambah Arnoldus, bagi para imam Serikat Sabda Allah menjadi pencinta khusus Kitab Suci supaya bisa melaksanakan tugas imamatnya (AN 55, hal. 56-57).
Arnoldus membuat usaha khusus untuk mendengarkan Roh Kudus dalam Kitab Suci dan dalam segala aspek hidupnya. Mengenal dan melaksanakan kehendak Allah adalah perhatiannya seumur hidup, dan yang lain dinomorduakan – hidup yang enak, penghargaan atau kritik dari orang lain, dll. Ia tidak pernah bosan tegaskan bahwa devosi khusus kepada Roh Kudus nampak paling jelas apabila kita berusaha dengan jujur mengikuti kehendak Allah. "Roh Kudus adalah Bapa kita secara khusus dan kita mengikuti kehendakNya yang suci apabila kita mendengarkan inspirasi ilahiNya dengan penuh perhatian dan berusaha untuk mengikutiNya dengan setia" (SSpS 1891, I, 6.3). Revisinya yang terakhir dari Doa Suku Jam berakhir dengan: "Utuslah kepada kami Roh Kudus dari Bapa. Mampukan kami mengenal tuntutanNya dan mengikuti bimbingannya dengan tekun."

6. Melihat Roh Kudus dalam segala-galanya

Sikap disermen ini datang dari apa yang disebutnya "Berjalan di hadirat Allah" (Peraturan tahun 1891, V,14). Ia menulis: "Para Suster haruslah dengan rajin mengingat Allah yang hadir di segala tempat, dan sambil mereka menyembah Dia dalam takhtaNya di surga dan dalam Ekaristi, mereka seharusnya juga berada di antara mereka yang sudah memilikinya dalam hati mereka lewat rahmat Roh Kudus sesuai dengan perkataan Kitab Suci: 'Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?' (I Kor 3:16). O, betapa beruntunglah kita apabila memiliki Tamu manis dan mencintai serta menyembah Dia, yaitu, Bapa dan Putera dalam persatuan dengan Roh Kudus" (SSpS 1891, V, 14). Banyak orang menggambarkan Arnoldus sebagai orang yang selalu hidup di hadirat Allah. "Tentu kesalehan sejati pada intinya adalah persatuan intim dengan Allah yang disadari, berkanjang, disertai penghayatan kebajikan secara heroik," kata P. Hilger. "Jika demikian, saya bisa katakan tiada santo yang memiliki kesalehan yang lebih tinggi dari pada kesalehan Arnoldus."10

Arnoldus menawarkan banyak usulan bagaimana menggalang kesadaran hidup selalu di hadirat Allah: Doa Suku Jam, menulis doa moto di surat-surat kita. Warna hijau mengingatkan dia akan kasih Bapa, warna merah akan Putera dan warna putih akan Roh Kudus (AN 55, p. 27). Segala sesuatu bisa menolong untuk mengingat kehadiran Allah: "sebuah gereja di kejauhan, atau juga matahari, bulan, bintang-bintang, badai, gunung-gunung, sungai-sungai, lembah-lembah, binatang-binatang dan tanaman-tanaman" (SSpS 1891, VII, 2.7). Dalam konperensi-konperensinya ia sering mengacu kepada bukti-bukti kehadiran Allah dalam keaneka-ragaman barang-barang: sebuah weker, setangkai bulu dengan batangnya yang keras tetapi bulu-bulunya lembut, sebuah paruh burung, aroma-aroma yang menyenangkan, cacing tanah hina yang merayap sepuluh meter per jam! (1903, 673) Dalam suatu konperensi Arnoldus minta hadirin untuk bermeditasi tentang tangan manusia atau tentang bentuk simetris mata (1883, 787); dalam konperensi lain bermeditasi tentang telur burung (1896, 369). Ia menjelaskan panjang lebar betapa seninya pekerjaan alam untuk menambahkan dimensi sepotong tulang menjadi seperempat lebih panjang! (1894, 44) Berefleksi tentang pergandaan roti dalam Yoh 6:1-13, ia menggambarkan bagaimana pohon terigu mengambil kimia dari bumi dan udara dan membentuk mereka menjadi batang, lalu menjadi pulir, yang menghasilkan tepung terigu untuk membuat roti - "suatu mujizat alamiah." Mujizat alamiah ini dan mujizat supernatural Yesus menunjukkan kuasa Allah yang mengagumkan yang Dia sendiri miliki dari kodratnya tetapi yang Ia rela bagikan dengan seluruh alam ciptaan. Maka "marilah kita menyembah keagungan Allah dan lewat kontemplasi semuanya ini hendaklah kita dikuatkan dalam iman kita" (1897, 635-6). Air mengingatkan dia akan kebesaran Allah yang mengetahui persis berapa banyak tetesan air ada dalam sungat Rhine yang mengalir ke laut. Ada begitu banyak aspek alam yang berbicara kepadanya tentang Roh pemberi hidup. "Roh mencintai maka ia membagi-bagikan karunia-karunia indah dengan makhluk ciptaan, sama seperti kehidupan itu sendiri. Sangat mengagumkan melihat bagaimana bunga-bunga indah dengan wangi-wangiannya muncul dari tanah dingin dan hitam.

“Betapa besar kebutuhan saya akan kasih ini!" (1895, 110) P. Hilger mengingat: "Ia mempunyai mata yang peka untuk seluruh alam ciptaan, kaum manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan... Dalam segala hal ia menjumpai Allah yang ia cintai dalam kebijaksanaanNya, kuasaNya dan keindahanNya... Dalam segala sesuatu P. Arnoldus melihat kemuliaan wajah Allah bersinar... Dengan seribu satu akar, kasihnya kepada Allah menarik gizi dari segala sesuatu."11

7. Roh Kudus membuat kita pantas dicintai

Arnoldus melihat "kasih Allah yang tak terperikan" dalam segala misteri keselamatan besar - inkarnasi, hidup dan misi Kristus, penderitaan dan wafatNya, dan pemberian RohNya kepada kita sebagai Tuhan yang telah bangkit. Selain nama-nama Allah, kata yang paling sering disebut dalam khotbah dan konperensinya adalah kata 'kasih.' Dalam bab singkat tentang semangat Kongregasi SSpS dalam Peraturan tahun 1891 kata ‘kasih’ dipakai sebanyak 75 kali.

Dari kekaguman Arnoldus akan kasih Allah muncul dua konsekwensi paling penting. Salah satunya adalah rasa ngeri terhadap dosa, bahkan dalam bentuknya yang paling ringan pun, dan kerinduannya untuk mempersembahkan silih atas dosa-dosa melawan Allah yang sangat mengasihi kita. Kasih Allah sangat jelas baginya, hampir meng-hanyutkan, namun Arnoldus tidak pernah berpuas diri dalam kasih Allah. Baginya kerendahan hati adalah tuntutan penting. Ia menghayati dan merekomendasikan praktek asketis traditional, sama seperti berpuasa dan penitensi fisik. Sekalipun ia percaya bahwa ia adalah "seekor cacing hina" di hadapan Allah, ia tahu bahwa rahmat kasih Allah telah menjadikan dia seorang putera, seorang saudara dan sebuah bait di mana bersinar kemuliaan Allah, dan ia tidak pernah bosan menghitung karunia-karunia yang ia telah terima. Dalam dua retret pemberangkatan ke misi (1882, 1883) konperensi-konperensi awal adalah tentang Bersyukur dan Berterima kasih. "Berterima kasih ditunjukkan paling baik dengan kasih" (1895, 239).

Yang kedua adalah penghargaannya terhadap martabat dan keindahan setiap pribadi – nilai jiwa-jiwa, seperti diistilahkannya. Satu konperensi dalam retret tahun 1883 sebelum pemberangkatan ke misi adalah tentang "Nilai dan Martabat Jiwa-jiwa," yang diciptakan menurut citra Allah, dan bagi merekalah Yesus mati dan rela mati berulang-ulang lagi jika perlu. "Sangat mengesankan apabila kita mengingat bahwa Yesus akan rela mati lagi dengan cara yang sama sekalipun anda adalah satu-satunya orang di dunia" (1895, 107, 265).

Kebaikan dan kasih Allah dilihat secara istimewa ketika Ia mengangkat manusia ke dalam martabat anak-anak Bapa yang tak layak diperoleh, martabat saudara dan saudari Putera, martabat bait dan pengantin Roh Kudus. Dalam khotbah Pentekostanya yang terakhir Arnoldus mengungkapkan ini dengan cara yang sederhana namun meng-hangatkan hati. Ia berbicara tentang tiga Pesta Besar kasih Allah: Natal - yang menyatakan kasih Bapa, Paska - yang menyatakan kasih Putera, dan Pentekosta - yang menyatakan kasih Roh Kudus. Lalu ia menambahkan kalimat yang bisa dilihat sebagai rangkuman seluruh hidupnya. Roh Kudus "adalah Allah kasih yang datang untuk membuat kita manusia yang pantas dicintai di mata Allah dan untuk menyatakan kasih Allah bagi mereka" (1907, 680). Semangat misinya mengalir langsung dari penghargaan akan kasih Allah yang berdiam dalam hati manusia dan bagaimana kasih itu telah mengangkat martabat setiap pribadi.

8. Bagi kita Sekarang?

Bagaimana kita bisa membuat pokok-pokok kunci visi rohani Arnoldus menjadi dasar respons kita kepada Allah dan terhadap realitas dunia sekarang?

A. Tridarma kita

Arnoldus menggunakan istilah-istilah teologis untuk menggambarkan visi yang membentuk dasar hidup rohaninya. Tetapi spiritualitas bukanlah kerangka teologis yang perlu dijelaskan dan dikomentari. Spiritualitas adalah sesungguhnya bagaimana Roh Kudus mengubah seseorang menjadi lebih seperti Kristus, yaitu, menjadi pribadi yang makin seperti yang diimpikan Allah. Inilah alasannya, Peraturan tahun 1891 (I, 2) menggambarkan cara hidup kita sebagai suatu panggilan untuk meneladani kehidupan Yesus Kristus lewat ketiga kaul dan memaklumkan Sabda Allah di dunia, khususnya di antara orang-orang kafir. Lalu Peraturan itu menjelaskan bahwa transformasi menjadi seperti Kristus berarti menjalankan tiga tugas kita, yaitu, a) mencintai Allah di atas segalanya, b) mencintai sesama seperti diri sendiri, dan c) berusaha hidup sempurna. Inilah tugas semua orang Kristen, tulis Arnoldus. Peraturan ingin menerangkan bagaimana kita bisa memenuhi tugas ini dengan cara khas kita mengikuti Kristus. Kapitel Jenderal-Kapitel Jenderal kita yang terakhir juga menekankan ketiga bidang perkembangan ini bagi kita, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas. Kita bisa katakan bahwa panggilan kita ialah mengikuti Kristus dalam kontemplasi misioner, belaskasihan, dan pertobatan, sambil kita mengusahakan komunio dengan semua orang.

a) Kontemplasi Misioner – melihat seperti Kristus

Kontemplasi adalah kesadaran akan Allah yang berdiam dalam hati kita, yang dikenal tidak hanya oleh budi melainkan lebih oleh hati yang mencintai, "penghargaan kontemplatif atas kehadiran Allah dalam segala sesuatu dan dalam setiap situasi" (SVD 1988, p. 51). Sikap ini melihat hidup manusia sebagai jawaban kepada Allah yang telah mencintai kita lebih dahulu dan yang telah mengutus PuteraNya supaya kita bisa memperoleh hidup dalam Dia (I Yoh 4:9-10). Bapa Pendiri kita melihat dengan jelas hidupnya dari sudut pandang biblis ini. Kontemplasi adalah suatu proses seumur hidup untuk memperdalam kemampuan kita untuk mengenal dan merangkul Allah, diri kita dan seluruh realitas, dan memberi respons dengan kasih dan belaskasihan.

Kita berjumpa dengan Allah dalam situasi-situasi misioner kita. Konstitusi 103 menegaskan bahwa teladan Sabda yang telah menjadi manusia menentukan cara kita dipanggil untuk bermisi, yaitu, dengan memasuki kebudayaan lain sepenuhnya, bersikap terbuka dalam dialog dengan semua orang, dan memiliki kasih khusus bagi orang miskin dan yang terpinggirkan. Kapitel SVD tahun 1988 mengungkapkan panggilan kita untuk misi dengan istilah "beralih" kepada ketiga kelompok ini. Namun mereka bukanlah tiga kegiatan yang terpisah melainkan sikap-sikap dasar, karena pada level terdalam ketiganya membentuk satu kesatuan. Ketiga “beralih” itu bukanlah hanya kegiatan yang kita lakukan; melainkan mereka adalah ungkapan misteri inti dari keberadaan (identitas) kita sebagai SVD/SSpS. "Kita tidak hanya mengerti misi sekarang sebagai suatu kegiatan, sebagai apa yang kita lakukan, tetapi sebagai keberadaan kita yang aktual; misi adalah identitas kita. Misi adalah kontemplasi, suatu sikap disermen, yang memampukan kita berdialog dengan Allah, satu dengan yang lain, dengan orang lain dalam situasi mereka" (SSpS 1996, 25; 26).

Beberapa ordo religius mempunyai mistisisme khas, yaitu, suatu cara memahami dan berelasi dengan Allah. Kita temukan mistisisme khas kita dalam proses beralih kepada orang lain. Untuk menggarisbawahi fakta bahwa kita berjumpa Allah dalam misi kita, suatu sisi khusus dari pengalaman kita akan Allah dalam setiap beralih disoroti oleh Kapitel Jenderal sebagai ilustrasi:

  • "Kita menganggap situasi lintas-budaya di mana kita berada sebagai sakramen kelimpahan Allah" (SVD 1988, hal. 52).
  • "Dialog sejati menghantar semua peserta menuju suatu pertobatan yang lebih penuh kepada realitas Allah yang selalu lebih besar" (hal. 55).
  • "Orang miskin adalah suatu misteri keselamatan bagi semua orang dan suatu sakramen khusus kehadiran Allah"; "suatu pengalaman akan Allah yang sangat dalam sebagai sumber segala belaskasihan (compassion)" (hal. 53; 54).

Maka kontemplasi berarti mulai melihat dunia secara berbeda, melihatnya seperti Yesus. Gambaran misi sebagai beralih menekankan bahwa inilah cara kita mengambil bagian dalam misteri paska Kristus yang berkelanjutan dengan mati untuk diri sendiri dan bangkit kepada kehidupan yang lebih limpah. "Dalam kuasa Roh Kudus kita mengikuti Dia, memuliakan Bapa dan membawa kehidupan yang lebih berlimpah kepada orang lain" (Prolog SVD/SSpS). Sebagai misionaris kita juga mengambil bagian dalam kepenuhan hidup lewat perjumpaan dengan Allah dalam misi kita dan dalam diri orang-orang yang kita layani. Allah yang berdiam dalam diri saya memampukan saya untuk berjumpa dengan Allah yang berdiam dalam diri orang lain dan memahami, bukan hanya dalam intelek tetapi dengan energi kasih, bahwa kita semua hidup dalam Allah. Kontemplasi misioner adalah kesadaran yang makin jelas dan pengalaman akan semua orang bersatu dalam komunio dengan Allah. Dalam kehidupan ini kita hanya melihat secara samar-samar seperti dalam sebuah cermin. Tetapi oleh cahaya Sang Sabda kita belajar melihat makin jelas lagi dan oleh rahmat Roh Kudus kita ditarik lebih masuk ke dalam misteri ini dan dihantar untuk menyesuaikan hidup kita.

Maka doa kontemplatif bukanlah terutama waktu yang dikhususkan untuk berbalik kepada Allah berlawanan dengan memikirkan orang lain. Doa pada level terdalamnya ialah memikirkan dan hidup di hadapan Allah, kalau tidak kita mencabut Allah dari kehidupan dan kegiatan kita sehari-hari. Namun waktu-waktu khusus untuk berdoa penting sekali – sama penting dengan tidur, bagaimana pun sibuk kita. Kita perlu meluangkan waktu untuk menyendiri bersama Allah, bukan bersembunyi di balik ‘doa-doa’ atau bacaan, tetapi hanya berada untuk Allah sendiri. Arnoldus sendiri mengarang dan menggunakan banyak doa (mungkin terlalu banyak untuk selera kita zaman sekarang!). Namun, menurut Ferdinand Medits, sahabat karibnya, ia selalu menegaskan tiga hal: meditasi setiap hari, kasih persaudaraan sejati, dan penghormatan terhadap Roh Kudus setiap hari.12 Meditasi setiap hari – waktu untuk berada hanya untuk Allah – tidak mudah, karena, seperti kata Arnoldus, Roh Kudus adalah api yang menghanguskan yang membakar segala kotoran sambil ia memanasi besi dingin menjadi panas seperti api. Pada saat-saat seperti itu Roh Kudus mentransformasikan kita menjadi seperti Kristus dan memenuhi kita dengan suatu gairah besar bagi Allah dan semangat pelayanan bagi umatNya, di sinilah nampak buah sejati doa. Roh Kudus membimbing kita untuk mengembangkan keterbukaan terhadap pengalaman akan Allah dalam misi kita.

Bapa Pendiri kita digambarkan sebagai seseorang yang hidup di hadirat Allah. Doanya selalu mengungkapkan suatu kesadaran akan kehadiran Allah dan keinginannya untuk selalu tinggal terbuka terhadap Roh Kudus. Hidup di hadirat Allah mengandaikan lebih dari pada menyadari Allah sesewaktu dalam sehari. Hidup di hadirat Allah berarti kesadaran yang makin besar bahwa setiap pribadi, seluruh ciptaan, setiap tindakan, terangkul dalam misteri Allah. Ia adalah suatu rasa kagum terhadap kehadiran Allah yang kreatif dan menghidupkan, dalam semua orang dan kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama. "Betapa penuh hormat kita akan menapaki tanah suci hadirat Allah dalam diri orang-orang dan kebudayaan-kebudayaan mereka!" (SSpS 1996, 31) "Tak seorang pun pernah melihat Allah," tulis St. Yohanes, "tetapi selama kita saling mencintai, Allah tinggal dalam diri kita dan kasihNya menjadi sempurna dalam diri kita karena bahkan di dunia ini kita telah menjadi seperti Allah... Barangsiapa mencintai Allah haruslah juga mencintai saudara dan saudarinya" (I Yoh 4:12f). Maka kontemplasi misioner menghantar kita kepada belaskasihan dan berkembang darinya.

b) Belaskasihan – mencintai seperti Kristus

Tugas kedua kita, menurut Peraturan tahun 1891, ialah "mencintai sesama seperti Kristus" (I, 7). Inilah sesungguhnya tanda seorang murid (Yoh 13:34). “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu: terimalah Roh Kudus" (Yoh 20:21). Kasih Allah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh (Rm. 5:5) membuat masing-masing kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih mencintai. Kita mulai melihat seperti Yesus dan mencintai seperti Dia, bukan hanya dalam arti meneladani Kristus tetapi juga menimba dari kekuatan kasih Kristus, Roh Kasih, yang tinggal dalam hati kita. Karena kehadiran Roh Yesus inilah bisa membuat kasihNya menjadi ukuran kasih kita. "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, dan seperti Aku telah mengasihi kamu, hendaknya kamu juga saling mengasihi" (Yoh 15:9.12). P. Arnoldus secara eksplisit membuat ini sebagai dasar kehidupan kita sebagai misionaris religius: "Sama seperti Yesus Kristus, Gembala yang Baik, dan Allah Roh Kudus mencintai kita dengan kasih ilahi tanpa jeda, maka demikian pula kita seharusnya mencintai sesama, terlebih para Suster kita dan mereka yang keselamatannya dipercayakan kepada kita" (SSpS 1891, I, 7). "Ungkapan terbesar kasih kepada sesama," kata Bapa Pendiri kita, "ialah bekerja untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Karena kegiatan mana sangat mulia dan sangat luhur dari pada kegiatan yang membuat Sang Sabda menjadi manusia? Kegiatan mana sangat merangkul semuanya dari pada yang merangkul semua karya belaskasihan? Karena dengan mentobatkan orang-orang berdosa anda memberi makan kepada yang lapar, anda memberikan tumpangan kepada para tunawisma, anda memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, anda menyembuhkan orang sakit, anda membawa kebebasan kepada mereka yang dipenjarakan dan kehidupan kepada orang-orang mati" (Peraturan tahun 1891, I, 7). Namun kasih menghantar kita melakukan semua karya belaskasihan ini juga dalam arti fisik. "Karya belas-kasihan rohani dan jasmani akan mendapat perhatian kita secara khusus, karena setiap manusia adalah citra Allah, saudari dan saudara Kristus, dan bait Roh Kudus. Sama seperti Allah memelihara mereka dari kepenuhan kasihNya, sabar menanggung kekurangan mereka dan berusaha untuk memperbaiki mereka, demikian pula kita akan mencintai mereka secara aktif. Inilah pedoman emas kita, baik dalam memaklumkan iman dan dalam menggalang saling mengasihi."13

"Semoga para Suster melihat Kristus yang miskin dalam orang-orang miskin dan bersikap lembut dan berbelaskasihan terhadap mereka" (SSpS 1891, I, 12.7). John Peil mengingat bagaimana Bapa Pendiri memprak-tekkan ini dalam perhatian praktisnya terhadap orang miskin dan berkekurangan dari Steyl dan Tegelen, bagi mereka "seminari di Steyl selalu tinggal terbuka. Pembagian makanan dan pakaian kepada orang miskin adalah tindakan kasih yang sangat berkenan kepada Bapa Pendiri."14 Ia mendorong para misionaris untuk menunjukkan kasih "dengan mengangkat mereka yang dibebani, paling kurang dengan kata yang membesarkan hati mereka; dengan mendengarkan dengan sabar, dan dengan bertindak berani bila ada penganiayaan atau perlakuan yang tidak adil" (1896, 269).

"Dikaruniai dengan kasih Bapa, yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus, kita diutus untuk melanjutkan kasih itu seperti yang dilakukan Yesus, ...menunjukkan kerahiman dan belaskasihan" (SSpS Con. 119). 'Melanjutkan kasih Bapa seperti Yesus' mengungkapkan dengan tepat inti dari pemuridan, dari misi. Panggilan menjadi seorang murid adalah suatu undangan untuk melihat dunia seperti Yesus melihatnya dan hidup sesuai dengan visi itu. Maka bagi Yesus belaskasihan adalah kebajikan fundamental: "Hendaklah kamu berbelaskasihan sama seperti Bapamu berbelaskasihan" (Luk 6:36). Pengalaman Yesus akan Allah sebagai Bapa yang berbelaskasihan mendorong Dia untuk membuat belas-kasihan sebagai inti pesanNya, terungkap dengan sangat mengharukan dalam tiga perumpamaan dalam injil Lukas 15 dan menghayatinya dalam "kebaktian tak bersyarat kepada semua, khususnya mereka yang berkekurangan." Belaskasihan ilahi yang sama mengulurkan tangan kepada kita sekarang dan lewat kita kepada orang lain; uluran tangan itu menyembuhkan, membebaskan, dan mempersatukan (Prolog SVD).

Dalam suatu khotbah pemberangkatan ke misi Arnoldus mendorong keduabelas imam dan keempatbelas bruder: "Jangan ragu-ragu menolong orang keluar dari penderitaan dan kekurangan mereka. Orang kepada siapa anda pergi adalah orang asing bagi anda, tetapi dalam Kristus kita semua adalah saudari dan saudara... Nilai mereka nampaknya sedikit saja menurut mata biasa, tetapi karena darah Kristus nilai mereka telah menjadi luar biasa besar" (1901, 581). Kita harus melihat orang dengan mata Kristus. Cinta seperti itu penting sekali untuk para misionaris, katanya, karena cinta itu menawan hati orang dan membuat kita terbuka terhadap bantuan Allah. "Banyak orang ingin melakukan perbuatan-perbuatan hebat, tetapi tak seorang pun ingin menjadi hamba bagi sesamanya." Lalu ia menceritakan perhatian St. Fransiskus Xaverius terhadap kesejahteraan jasmani maupun rohani orang-orang di Goa dan mendorong para misionaris kita untuk meneladani Fransiskus dengan cara yang sama (1882, 476).

Maka bagi Arnoldus kontemplasi membawa kita kepada belaskasihan. Sesungguhnya, batu ujian pengalaman religius mana pun adalah perobahan apa yang didatangkannya dalam hidup pelayanan kasih kita. "Kasih suci tidak terdiri atas perasaan suci tetapi atas motivasi-motivasi dan perbuatan-perbuatan" (SSpS 1891, I, 13.7). "Hati Yesus haruslah hidup dalam hati kita lewat kesalehan dan kasih, yaitu, kasih bagi sesama dan dalam perbuatan baik bagi mereka. Maka orang yang berkekurangan haruslah dibantu, yang tak berdaya didukung, yang tersesat dituntun kembali ke jalan yang benar. Maka lewat perhatian terhadap kebutuhan jasmani dipersiapkan jalan untuk kebutuhan rohani." Lalu Statuta 4 dari Peraturan tahun 1891 mengutip St. Yohanes tanpa komentar sedikit pun: "Barangsiapa tidak mengasihi saudara-saudarinya yang dilihatnya tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (I Yoh 4:20). Tujuan Peraturan hanyalah untuk menjelaskan bagaimana kita dipanggil untuk mengungkapkan kasih ini secara konkret.

c) Pertobatan – hidup seperti Kristus

Peraturan tahun 1891 menjelaskan tugas ketiga kita: "Allah berbicara kepada kita sama seperti ia berbicara kepada Abraham, 'Hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela' (Gen 17:1) ...Makin kita berkembang dalam keadilan dan kesucian makin kita memuliakan Allah dan mengerjakan keselamatan sesama" (I, 20). Inti pesan kerajaan Yesus adalah pertobatan dan transformasi menjadi seperti Kristus. Hal ini menyangkut pergantian kriteria yang menjadi pedoman keputusan-keputusan kita. Dalam Kitab Suci pertobatan adalah sekaligus berpaling dari dan berpaling kepada, kepada Allah, kepada Yesus. Sesungguhnya, berpaling kepada Yesus - inilah yang membawa perobahan dalam hidup kita sehingga menghayati nilai-nilai injili. Kita tidak hanya menerima mereka sebagai nilai-nilai teoretis melainkan karena mereka adalah nilai-nilai Yesus. Yesus adalah pusat. Perjumpaan kita dengan Dia dalam misi kita merupakan tantangan terus menerus untuk bertobat dan membaharui diri.

Sama seperti kontemplasi berkembang dalam konteks misi kita, demikian pula pertobatan dan transformasi kita dalam Kristus terjadi dalam misi. Pertobatan menyangkut bertumbuh "dalam pemahaman kita tentang misi, dari berbuat dan berbuat bagi menjadi berada dan berada dalam relasi dengan orang lain" (SSpS 1996, 10). Sama seperti orang Kristen lain, kita juga terpanggil untuk berusaha menjadi sempurna. Arnoldus menggunakan ungkapan tradisional ini untuk mengacu kepada pertumbuhan dalam praktek kebajikan. Mungkin ungkapan itu tidak terlalu tepat karena kesempurnaan dalam arti ini adalah sesuatu yang mustahil; tidak pernah kita bisa katakan bahwa kita sudah sempurna total. Memiliki ideal untuk dikejar bisa menstimulir, tetapi mengukur terus menerus masih berapa jauh kita dari ideal itu bisa juga mematahkan semangat. Berusaha untuk kesempurnaan di masa depan, ber-fokus pada diri kita, tak sepenting dengan mendisern tindakan Allah dalam hidup kita sekarang. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin lebih membantu ialah: Sikap-sikap mana yang Tuhan tantang saya untuk kembangkan dalam hidup saya sebagai misionaris? Perobahan macam apa yang diharapkan dalam pribadiku? Bagaimana gambaran seorang SSpS/SVD yang memberi respons kepada Roh Kudus?

Kapitel SVD tahun 2000 (# 52-71) mengidentifikasikan empat situasi tapal batas di mana Kapitel merasakan suatu panggilan khusus untuk memberi respons dan mengungkapkannya sebagai suatu panggilan untuk catur-dialog: dengan orang-orang yang tak punya komunitas iman, orang-orang yang miskin dan terpinggirkan, orang-orang dari kebudayaan lain, dan orang-orang dari agama lain. Dalam setiap kasus dialog menyangkut pertobatan personal; suatu kematian bersama Kristus dan bangkit bersamaNya ke dalam hidup lebih limpah. Tuhan memanggil kita untuk pertobatan semacam apa?

  • Dialog dengan para pencari iman menantang kita untuk beralih dari iman yang dangkal kepada iman yang lebih dalam, suatu iman yang sungguh-sungguh mempengaruhi segala aspek kehidupan kita.
  • Dalam dialog dengan orang dari kebudayaan lain, kita beralih dari prasangka, nasionalisme yang berlebihan, regionalisme, ketakutan, kepada penerimaan, keterbukaan, antusiasme.
  • Dalam dialog dengan orang dari agama lain, kita beralih dari tidak percaya, kecurigaan dan kepongahan, kepada saling percaya, keramah-tamahan, kerendahan hati, kolaborasi, hormat.
  • Dalam beralih kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan, kita beralih dari ketamakan dan ketidakacuhan, kepada solidaritas dan belaskasihan.

Beralih kepada orang miskin harus mendatangkan dua perobahan. Beralih adalah "suatu pengalaman akan Allah sebagai sumber segala belaskasihan"; suatu pengalaman akan kemiskinan batin kita. Seorang Suster yang menolong di suatu kamp pengungsi biasanya mengunjungi seorang ibu janda yang harus memelihara tiga anak. Semangat perempuan ini yang penuh keberanian selalu memberi inspirasi bagi Suster. "Saya sering bertanya," katanya, "siapa menolong siapa?" Pertobatan sedang terjadi apabila kita merasa seperti itu. Itu berarti melihat peranan kita lebih sebagai penerima dari pada pemberi. Solidaritas mengungkapkan sikap yang kita butuhkan, karena tak bisa mengikuti Yesus tanpa kasih afektif bagi orang miskin dan orang yang terpinggirkan sebagai saudari dan saudara kita. Kapitel Jenderal SSpS mengungkapkan hal ini secara konkret dengan menerima sebagai prioritas, "Solidaritas dengan orang yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS" (SSpS 2002, 69).
Suatu langkah ke depan yang signifikan yang dibuat oleh Kapitel adalah panggilannya untuk pertobatan juga dalam level komunitas. Roh menolong kita secara personal dan sebagai komunitas menjadi seperti Kristus, orang yang bersikap dialog berdasarkan tiga kebajikan besar misioner yaitu "solidaritas, hormat dan kasih" (# 53).

d) Terpanggil untuk Komunio – hidup dalam Kristus

Misi Allah adalah kasih ilahi yang mengulurkan tangan untuk menarik seluruh umat manusia ke dalam persatuan dengan Allah. Kunci untuk memahami kehidupan dan misi Yesus adalah persatuannya dengan Bapa, suatu komunio hidup yang ingin dibagikanNya dengan datang kepada kita. Roh Kasih dicurahkan ke dalam hati kita untuk mempersatukan kita dalam Yesus bersama dengan Bapa. Hidup dalam Roh Yesus mengutus kita untuk melaksanakan ketiga tugas kita dengan menjadi pelayan komunio ini. "Sama seperti Engkau, Bapa, telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia... Semoga mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku" (Yoh 17:18f). Secara khusus "kita terpanggil untuk memberikan kesaksian kepada kasih Allah yang merangkul semua secara universal... dan kepada keanekaragaman manusia" (# 49-50). "Demikian kita menolong untuk membangun suatu komunio kasih dengan semua orang, dan komunio semua orang dengan Allah Tritunggal yang mengasihi kita" (SVD 1988, hal. 45).

Maka misteri Allah berdiam dalam hati kita adalah sekaligus sumber dan tujuan misi. Untuk itulah Yesus datang. "Kasih dan kerendahan hati Yesus dinyatakan khususnya dalam inkarnasiNya, dalam penderitaanNya yang suci, dan dalam Ekaristi Kudus. Berkat rahmat Roh Kudus semoga Yesus, Kasih yang menjelma, disalibkan dan tersembunyi, makin terukir lebih dalam di hati kita dan meraja di hati kita sebagai saudara kita" (SSpS 1891, I, 5.3).

Doa, "Semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua orang!" mengungkapkan keinginan kita untuk bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus dan ditransformasikan ke dalam citraNya sehingga cita-citaNya membentuk sikap-sikap kita. Tetapi lebih banyak lagi implikasinya. Doa ini memohon supaya Roh Kudus memberikan kita rahmat persatuan dengan Allah yang adalah kerinduan terdalam hati manusia. Itulah proses di mana masing-masing kita memenuhi diri kita dengan menghayati panggilan pribadi kita dan dengan demikian mengembangkan yang terbaik dari kita yang unik. Inilah kehendak Allah, impian Allah bagi kita masing-masing. Buah menjadi nampak apabila Roh Kudus menghantar kita menghargai setiap orang sebagai yang pantas dicintai karena telah dikaruniai kepantasan itu oleh kasih Bapa dalam Yesus, dan apabila saya menolong orang lain menghargai keindahan mereka sendiri juga. Bagi Arnoldus manusia adalah seperti kaca kristal yang keindahannya memancar ketika sinar matahari Allah bersinar melalui mereka. Itulah kehidupan Allah dalam diri kita; semoga Allah hidup dalam diri kita!

B. Tak Terungkapkan Dengan Kata-Kata, Namun Nyata

Misteri Allah berdiam dalam hati manusia dialami terutama apabila kita mengulurkan tangan dalam kasih kepada orang lain. Dalam Yoh 14:15-26 Yesus tiga kali menjanjikan Allah Tritunggal berdiam dalam hati apabila kita mengikuti perintahNya. Bagi Yesus misteri Allah berdiam dalam hati bukanlah soal perasaan hangat karena dekat dengan Allah dalam doa. Misteri ini adalah suatu undangan "untuk mencintai seperti Aku" (13:34). Para murid baru saja melihat kasih itu dalam aksi; Roh Kudus dalam diri kita mengundang kita juga untuk menjadi pelayan handuk-dan-air. "Selama kita saling mencintai, Allah tinggal di antara kita" (I Yoh 4:12).

Kesadaran akan kehadiran Allah ini adalah suatu pengenalan melebihi segala ide, bahkan tak terungkapkan dengan kata-kata. Namun ia menampakkan diri dalam urusan kita yang biasa dan harian. Ini berarti memberi perhatian kepada Allah dalam segala realitas, dalam diri kita, dalam misi kita, dalam alam; menjadi sadar akan Allah yang aktif dalam sejarah. Jika doa adalah hidup dan memikirkan kehadiran Allah, maka hal itu harus membawa kita hidup dalam saat sekarang. Ia berarti memahami bahwa misi adalah menggalang relasi dan "bukan hanya sebagai suatu kegiatan, apa yang kita buat, tetapi sebagai keberadaan kita; ia adalah identitas kita" (SSpS 1996, 25).

Allah berdiam dalam diri kita bukan soal Allah menjadi hadir dalam diri kita tetapi sebaliknya kita menjadi hadir dalam Allah dalam setiap situasi, yang lebih dipahami oleh hati yang mengasihi dari pada oleh budi.

P. Arnoldus tidak pernah menjelaskan sepenuhnya apa yang dipahaminya sebagai misteri Allah berdiam dalam hati manusia, sama seperti Yesus dan St. Paulus juga tidak. Diisyaratkan oleh gambaran puitis, ia bisa dipahami hanya dengan menghayati misteri itu; dengan membiarkan misteri itu mencengkam kita. Tak bisa diungkapkan oleh kata-kata dari Arnoldus; namun Roh Kebenaran memberi dia pengetahuan riil - riil, karena pengetahuan itu membentuk visinya tentang Allah, tentang orang lain, tentang dirinya; pengetahuan itu membentuk dasar dari komitmen misionernya seumur hidup.

Roh Kudus ingin membentuk visi kita juga, supaya bisa melihat Allah sebagai dekat sekali dengan kita, punya perhatian terhadap kita, tergerak oleh kerinduan yang membara akan kasih kita. Arnoldus menjelaskan seruan Yesus, "Aku haus" (Yoh 19:28), sebagai ungkapan kerinduan Allah terhadap kita (1895, 281, 569). Ia mengusulkan supaya kehausan fisik yang diderita oleh para misionaris ditanggung dalam persatuan dengan kehausan ilahi untuk jiwa-jiwa.

Roh Kudus yang tinggal dalam hati manusia membantu saya melihat diriku sebagaimana Allah melihat aku – seorang pendosa, seekor cacing tanah yang hina, tetapi juga seorang yang disentuh oleh keindahan Roh, dicintai oleh Bapa dan oleh karenanya pantas dicintai; pantas dicintai bukan karena prestasiku, melainkan hanya karena aku adalah diriku, aku adalah milik Allah.

Roh Kudus memperluas pemahaman kita akan misi dan membentuk pandangan kita terhadap orang lain. Jika Roh Kudus sudah hadir dalam diri orang-orang dari pelbagai bangsa dan kebudayaan, maka kerendahan hati dan hormat adalah sikap-sikap yang pantas bagi seorang misionaris. "Betapa penuh hormat kita akan menapaki tanah suci hadirat Allah dalam diri orang-orang dan kebudayaan-kebudayaan mereka!" (SSpS 1996, 31).

C. Tantangan Bunga-bunga

Misi adalah selalu misi Allah. Mendoakan doa P. Arnoldus, "Semoga Allah Tritunggal hidup dalam hati kita!", adalah mendoakan supaya misi Allah mencapai tujuannya. Doa ini tidak minta kepada Allah untuk melakukan sesuatu, bahkan tidak juga minta untuk merobah kita dengan cara apa pun, hanya supaya Allah hidup dalam diri kita, karena jika Allah tinggal dalam diri kita, kita juga akan hidup sepenuhnya. Doa ini memohon supaya keindahan dan kasih Allah hidup dalam diri semua orang.

Apabila Allah mencintai, Ia tidak pernah mencintai dari kejauhan; bagi Allah mencintai berarti bersatu dengan kekasih. Demikianlah Arnoldus memahami pernyataan Paulus tentang kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh (Rom 5:5). "Itu bukan hanya sentuhan yang berlalu, melainkan Ia tinggal dalam diri kita secara hidup." Kesadaran ini memenuhi hatinya dengan kasih dan hormat bagi orang lain yang, seperti dia, memiliki Allah sebagai Bapa, Yesus sebagai saudara, Roh Kudus sebagai pengantin, dan yang adalah "ahli waris harta kekayaan Allah." Oleh karena itu, "kita harus mengasihi mereka sama seperti Allah mengasihi mereka" (1897, 684; 746). Berkomentar tentang ayat, "Sang Sabda menjadi manusia" (Yoh 1:14), Arnoldus menyatakan bahwa kasih Allah di sini "bukan hanya kasih yang berbelaskasihan atau kasih pribadi yang baik hati, tetapi suatu kasih yang memberikan diri" (1880, 429). Itulah sebabnya ia menyukai gambaran Roh Kudus sebagai api yang membuat besi panas; kasih Allah berarti memberikan diri. Kerinduan kasih Allah ialah untuk mempersatukan semua dengan Allah dalam Kristus yang telah bangkit. Yesus mati sebagai seorang individu terpisah, sepi; tetapi ia bangkit sebagai kepala yang mempersatukan semua manusia, bahkan seluruh ciptaan (Ef 1:10).

Maka, menegaskan bahwa Allah berdiam dalam hati tidak hanya mengikuti suatu devosi saleh dari Bapa Pendiri. Lebih dari itu, ia adalah suatu cara baru berada (being) dan melihat (seeing), suatu rasa diriku yang ditingkatkan sehingga saya melihat diriku sebagai bagian kecil tetapi unik dan berharga dari suatu keseluruhan yang lebih besar, suatu dunia yang dasar serta tujuannya berada dalam Allah, Allah yang adalah lebih dekat kita dari pada nafas kita.

Marilah kita menghirup keindahan Nafas Allah di sekeliling kita, karena, seperti kata Arnoldus, "Allah mengasihi kita dalam Roh Kudus dan Ia memberikan kita segala rahmat dalam Roh Kudus. Roh Kudus adalah pemenuhan dari kepenuhan Tritunggal Mahakudus dan juga kepenuhan dunia. Dari Roh Kudus datanglah hidup bagi semua makhluk hidup; dari Dialah lagu merdu burung-burung; dari Dialah keindahan hutan-hutan, kebun dan padang rumput. Dalam Roh Kudus Allah mengasihi Dunia dan membagikan dengan dunia rahmat-rahmat berharga, bahkan semua rahmat. Oleh karena itu saya seharusnya balas mengasihi Dia. Kasihnya murni dan tak ingat diri sama sekali. Ia tidak mengasihi kita karena apa adanya kita, tetapi karena apa yang Ia ingin bagikan dengan kita. Dari Roh Kudus datanglah segala persahabatan dan keindahan" (1889, 323). Roh Kudus mengasihi kita bukan hanya untuk apa yang kita telah buat, tetapi untuk apa yang kita bisa terima.

Seperti Arnoldus kita menghormati bunga-bunga sebagai "utusan-utusan Allah." Apa pesan mereka bagi kita? Sayangnya, mereka berbicara kepada kita sekarang tentang banyak bunga yang mati karena hujan asam (acid rain) dan zat-zat polusi dari manusia yang lain. Mereka berbicara kepada kita tentang banyak anak mati karena kelaparan yang disebabkan oleh kerakusan dan ketidakpedulian manusia. Sensitivitas terhadap bunga-bunga sangat menantang para Suster, umpamanya, menghayati doa Bapa Pendiri dengan menggalang "suatu pandangan hidup yang holistik dan sikap penuh hormat terhadap alam semesta yang mengalir dari spiritualitas feminin kita dan yang mengambil bentuk konkret dalam gaya hidup sederhana dan cara yang menghidupkan dalam menangani sumber daya" (SSpS 1996, 32).

Bunga-bunga, kata Yesus (Luk 12:27-31), menantang kita untuk mengarahkan hati kita pada satu-satunya hal yang penting, kerajaan Allah, dan bukan pada hal-hal lain. Inilah inti kaul-kaul religius kita. Maka, di atas segalanya, bunga-bunga berbicara kepada kita tentang keindahan Allah dan kehadiranNya yang setia menemani kita dalam dunia kita yang menderita, suatu kesadaran yang menghantar Arnoldus, dalam konperensi yang sama di mana ia berbicara tentang bunga-bunga sebagai 'utusan-utusan Allah,' untuk menegaskan peng-hormatan terhadap orang sebagai ciptaan Roh Kudus dalam citra Allah dan dijadikan lebih lagi seperti Allah melalui kelahiran baru dalam Kristus oleh Roh Kudus. Maka doa ini membawa kita menghargai keindahan setiap pribadi, melihat dunia dan semua orang seperti Yesus. Doa itu membawa kita menjadi terjaga pada Roh Kudus yang berhembus di dunia kita, menolong kita membuatnya "suatu tempat kediaman yang lebih layak bagi Allah" (A.J.), bergembiara atas tanda mana saja dari kerajaan Allah yang menembus dan melayani kerajaan kasih.

Menghormati bunga-bunga dan mencintai orang membuat kita membuka mata terhadap Allah yang ada di pusat keberadaan kita, Allah Tritunggal yang adalah sumber segala keindahan dan kehidupan, Allah yang adalah kasih.

Maka doa Arnoldus menggemakan doa misioner Yesus kepada Bapa: "Semoga mereka menjadi satu, Bapa, sama seperti Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya... Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, semoga mereka sempurna menjadi satu... Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka, dan Aku di dalam mereka" (Yoh 17:21f). Itulah yang dimaksudkan melihat Allah dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu dalam Allah. Semoga Allah Tritunggal hidup dalam diri kita dan di dunia kita! Vivat!


* Penulis: Lahir 1940 di Liverpool, England. Sesudah tahbisan imamat di Techny, USA, pada tahun 1966 ia bekerja selama beberapa tahun sebagai formator di novisiat SVD dan seminari tinggi di Philippines, lalu di Inggeris. Ia dipanggil untuk bekerja di Jenderalat SVD sebagai Sekretaris formasi dan pendidikan, pertama dalam masa jabatan P. H. Heekeren lalu dalam masa jabatan P. H. Barlage. Sesudah tiga masa jabatan di Roma, ia ditugaskan sebagai anggota team Pusat Spiritualitas Arnoldus Janssen, berbasis di Steyl, Netherlands.


1 A. Rohner, Die Vortragstiitigkeit P. Arnold Janssens (Analecta SVD 30 & 31), Rome, 1974, 1976. Referensi memberikan tahun konperensi tambah nomor halaman, e.g. (1901, 634). Dokumen-dokumen kapitel jenderal diacu dengan tahun kapitel tambah nomor halaman atau paragraf.

2 H. Fischer, You are the Temple of the Holy Spirit (trans. P. La Forge), Quezon City, 1999, 127-128.

3 Pada awalnya doa berfokus pada individu dan komunitas-komunitas kita, tetapi kemudian Arnoldus memperluasnya untuk merangkul semua orang. Umpamanya, ia mengatakan kepada kita bahwa arti yang lebih luas adalah tema dan intensi Pentakhtaan Sakramen Mahakudus selama Empat Puluh Jam pada tahun 1900. Maka doa itu seperti di dalam Prolog SSpS dan Epilog mengungkapkan semangat Bapa Pendiri: "Semoga Allah Tritunggal hidup dalam hati kita dan dalam hati semua orang." Demikian pun SSpS-AP Konst. 411 dikatakan "... dan dalam setiap hati."

4 A. Rohner, Arnold Janssen: Personliche Aufzeichungen aus dem Jahre 1906 (Analecta SVD 55), Rome, 1981, 26. Dicatat sebagai AN 55.

5 A. Rohner, Die Gebete Arnold Janssens (Analecta SVD 56), Rome, 1982, 100. Dicatat sebaga AN 56.

6 J. Reuter, Proclaiming the Word in the Power of the Spirit, Steyl, 1994, 71-72.

7 Ulasan panjang tema ini lihat P. McHugh, "The Role of Missiological Education in Our Society's Formation Program," DIWA VIII (1984) 101-117. Untuk formasi para Bruder lihat P. McHugh, "The Development of the SVD Brother Formation," Verbum SVD 35 (1994) 241-258.

8 Rohner, AN 55:87.

9 K. Muller, Contemplation and Mission: Sister-Servants of the Holy Spirit 1896-1996 (Studia Instituti Missiologici SVD 69), Nettetal: Steyler Verlag, 1998, 117-118.

10 A. Hilger, "A Private Secretary's Impressions of Our Founder," in: P. McHugh (ed.), Arnold Janssen Yesterday and Today (Analecta SVD 63/III), Rome, 1998, 51ft'.

11 A. Hilger, "The 100th Birthday of Arnold Janssen," in: Analecta SVD 63/III,73-74.

12 F. Bornemann (ed.), Remembering Arnold Janssen (Analecta SVD 42), Rome, 1978, # 1133.

13 See A. Janssen, "The Spirit and Task of Our Society," in: Analecta SVD 63/III, 304.

14 J. Peil, "Wheat and Chaff from the Early Days of the Steyl Mission House," dalam: Analecta SVD 63/III, 157.