Divine Word Missionaries

Tsunami in South-East Asia


Info & News

from the Generalate

from the Provinces

 

Back to

Members' Area

Site Map

Home


Info
Untuk Kalangan Sendiri

  ccc  

VIVAT INTERNASIONAL - INDONESIA
PADMA – INDONESIA
untuk Korban Gempa & Tsunami
Aceh & Sumut

No.

     

01

     

 

Sekretariat:
MEDAN: Jl. Pancing 1 No. 7, Martubung, Kecamatan Medan Labuan;
Medan Sumatra Utara 20251; Telp. (061) 655250 –
JAKARTA: Jl. Palbatu No. 12, RT. 009/RW No. 4, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet,
Jakarta Selatan 12870; Telp/Fax. [021] 83706152

JPIC SVD Jawa:
Koordinasi Awal Tanggap Darurat

Segera sesudah bencana gempa bumi dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004, sama saudara dan saudari di Propinsi SVD Jawa dan SSpS Jawa melakukan intervensi tanggap darurat, entah dalam koordinasi dengan Office for JPIC Propinsi SVD, Propinsi SSpS atau juga dengan Posko Kemanusiaan Keuskupan Medan (Posko KAM) dan jaringan bantuan lainnya.

Norbert Betan SVD, ketua komisi JPIC Jawa dan juga direktur PADMA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian) Indonesia datang ke Medan tanggal 3 Januari untuk melakukan koordinasi dengan pihak keuskupan dan konfrater yang bekerja di rektorat Medan, berbagai pihak terkait dan kemudian mengutus staf PADMA ke beberapa lokasi bencana untuk melakukan investigasi sekaligus memberikan bantuan tanggap darurat. Beliau berada di Medan selama 10 hari; kembali ke Jakarta pada tanggal 13 Januari.

Dalam koordinasi tersebut, Norbert secara khusus menghubungi pihak Keuskupan Sibolga, karena kurangnya perhatian publik kepada korban di Pulau Nias yang berada di wilayah Keuskupan Sibolga. Melalui berita TV dan koran-koran nasional dapat diketahui bahwa perhatian dari pemerintah dan organisasi swasta lainnya hanya tertuju kepada para korban di kota Banda Aceh, Meulaboh dan sekitarnya yang adalah bagian dari wilayah Keuskupan Medan.

Rumah Solidaritas dan Perutusan:
Komunitas SVD Martubung & Rektorat Sumatera Utara

Rumah rektorat SVD di Martubung, yang terletak di bagian timur pinggiran kota Medan, sekitar 1 jam dengan taxi dari bandara Polonia, telah menjadi tempat singgah dan perutusan bagi para relawan kemanusiaan untuk para korban bencana. Paulus Payong SVD, rektor distrik Medan, menjadi koordinator pengiriman relawan dan distribusi bantuan yang disalurkan via jaringan kita. Urusan kesekretariatan dan informasi berpusat di rumah ini. Menjemput relawan dalam jaringan kita – SVD, SSpS dan para aktivis lainnya, termasuk yang beragama Islam – dan mengantar mereka ke bandara Polonia Medan untuk kembali, yang dilakukan hampir setiap hari, merupakan suatu sumbangan dari rumah ini yang tidak kecil nilainya dalam situasi darurat kemanusiaan seperti ini. Yang lebih menuntut ketelitian dan korban adalah tugas beliau sebagai pengatur lalu-lintas keuangan dan distribusi barang-barang bantuan.

Yosef Due SVD, anggota komunitas Martubung, 27 Desember 2004, telah diangkat oleh Uskup Agung Medan menjadi koordinator Posko Kemanusiaan Keuskupan Agung Medan (KAM). Ada banyak lembaga sosial, dalam dan luar negeri, seperti, Caritas Jerman, Caritas Austria, CORDAID Belanda, CRS Amerika Serikat, ICMC (International Catholic Migration Comission), Caritas Australia, JRS (Jesuit Refuges Centre, yang bekerja di bawah koordinasi Keuskupan Agung Medan. Selain mengkoordinir pendistribusian bantuan yang disalurkan via Keuskupan Medan, mengurus penempatan dan pengiriman relawan, Yosef juga sangat membantu VIVAT/PADMA Indonesia.

Charles Lanang SVD yang kini bekerja di Paroki St. Yosef Lawedesky, Kota Cane, Aceh Tenggara, melakukan investigasi dan memberikan bantuan darurat bagi para korban di Kecamatan Singkil dan Kecamatan Pulau Banyak. Kris Kia SVD, pastor paroki Pinangsori sekitar 30 Km dari kota Sibolga, dalam kerja sama dengan Pastor Venantz OFMCap dan Rm. Mikhael To Pr memberikan bantuan darurat bagi para korban di Pulau Nias.

Melayani dengan Hati dan Tangan:
SSpS di Lhokseumawe, Banda Aceh dan Nias

Kota Administratif Lhokseumawe dengan luas wilayah keseluruhan mencapai 181,06 Km2, merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Utara. Kota ini terdiri dari tiga kecamatan: Muara Dua, Banda Sakti dan Blang Mangat. Pada tahun 1995 penduduknya berjumlah 138.678 jiwa dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 141.042 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 0,3 % per tahun. Dalam peta militer, Lhokseumawe, kota di pesisir timur Pulau Sumatra dan wilayah sekitarnya adalah daerah basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut Sr. Viany SSpS, mahasiswa Matematika di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang menjadi relawan di Lhokseumawe, keadaan sosial cukup aman, penjagaan dan pengawasan dari militer cukup ketat.

Tanggal 11 Januari, Sr, Ruth SSpS dari Surabaya berangkat ke Lhokseumawe dan memberikan pelayanan kesehatan sampai tanggal 22 Januari. Tanggal 12 Januari 8 relawan SSpS dari Surabaya tiba di Martubung, Medan. Keeseokan harinya 3 orang dari relawan tersebut: Sr. Fransiska SSpS (ketua JPIC), Sr. Valeria SSpS (kepala Sekolah SMK St. Agnes Surabaya) dan Bapak Kukuh berangkat ke Nias. Tanggal 15 Januari para relawan yang lain: Ibu Tilde (perawat), Sr. Yulia SSpS (perawat di RSK), Sr. Veronika SSpS (yang baru saja mengikrarakan kaul pertamanya) dan Sr. Viani SSpS (sedang belajar matematika di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) berangkat ke Lhoksemauwe. Tanggal 26 Januari Sr. Clara SSpS (staf BKIA Pantisila, Bali) berangkat ke Banda Aceh.

Selain memberikan pelayanan kesehatan kepada para korban suster-suster dan relawan memberikan bantuan darurat: paket makanan, sekolah, dan mandi untuk sekitar 250 anak, khususnya di SD Tanah Pasir. Mereka juga membagikan pakaian dalam kepada sekitar 250 orang perempuan.

Menurut inforamasi dari Sr. Viani SSpS, warga setempat sangat terbuka menerima kedatangan para relawan. Ada juga warga yang menawarkan bantuan rumah penginapan. Selama memberikan bantuan kemanusiaan di sana, suster-suster, perawat perempuan, dokter, dan bruder, menginap di Susteran SCMM. Relawan laki-laki lainnya menginap di sebuah ruko yang disumbangkan oleh seorang warga.

Babah Jurong & Banda Aceh:
Jaringan & Distribusi Bantuan

Gabriel Goa Sola, staf VIVAT/PADMA berangkat ke Babah Jurong dan Banda Aceh pada tanggal 7 Januari dan membantu di sana selama 12 hari. Rekannya Felix Mamudi berangkat ke tempat yang sama sehari sebelumnya, tanggal 6 Januari dan membantu di sana sampai tanggal 27 Januari. Baba Jurong adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kuto Baru, Kabupaten Aceh Besar, yang berbatasan dengan Kota Madya Banda Aceh. Desa itu terletak sekitar 15 km dari pantai dan kini menjadi tempat pengungsian para korban.

Menurut catatan Felix dan Gaby, jumlah pengungsi di desa ini adalah sebanyak 169 orang yang menginap di 26 rumah keluarga. Penduduk lokal desa Babah Jurong berjumlah 1.467 orang. Sekitar 30 % dari jumlah penduduk tersebut (670 orang) telah kehilangan mata pencaharian, karena tempat kerja mereka di kota Banda Aceh sudah tidak ada lagi.

Selama berada di Banda Aceh dan Babah Jurong, Felix dan Gaby telah berkoordinasi dengan SEFA (Save Emergency for Aceh), sebuah organisasi lokal yang beranggotakan mahasiswa Aceh dari dari berbagai perguruan tinggi di Bandan Aceh seperti Universitas Negeri Syiah Kuala, IAIN Ar Rainiri, Universitas Muhammadyah dll. dan juga dengan kepala desa Baba Jurong, Yusuf Arif. Ada semacam kesepakatan antara VIVAT/PADMA dan SEFA untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan pendidikan anak di desa Baba Jurong. Selain itu, kedua relawan kita menyalurkan dan memberikan bantuan emergensi. Bantuan tersebut diberikan kepada semua anak di Baba Jurong baik anak pengungsi maupun anak dari penduduk yang menampung para pengungsi.

Selanjutnya, Yovianus Toni Sakera, melaporkan pada tanggal 2 Februari 2005, bahwa relawan yang bekerja sama dengan VIVAT/PADMA adalah seluruhnya orang Aceh dan beberapa umat kita yang berasal dari Sumatera Utara. VIVAT/PADMA bekerja sama dengan SEFA. Saat ini, jumlah relawan yang bekerjasama dengan VIVAT/PADMA berjumlah 20 – 25 orang dengan rincian: Kesekretariatan dan rumah tangga = 2 orang; distribusi pangan dan bantuan ke pengungsi = 10 - 15 orang; pertukangan = 6 orang; Pengumpulan data = 2 orang; dan untuk mengorganisasikan kerja tersebut, PADMA Indonesia telah mengontrak sebuah rumah yang berlokasi di Kelurahan Lam Seu Peung, Kecamatan Leung Bata, Banda Aceh.

Distribusi bantuan baru dimulai dalam periode minggu ke-4 bulan Januari 2005. Dalam rentang waktu tersebut, VIVAT/PADMA Indonesia yang bekerja bersama-sama dengan partner lokal telah melayani sekitar 500 orang pengungsi.

Adapun jenis-jenis bantuan yang telah disalurkan adalah: bantuan uang tunai bagi mahasiswa yang menjadi korban untuk membeli buku, pakaian dan peralatan mereka yang rusak. Bantuan lain adalah menyiapkan pemondokan bagi 15 mahasiswa yang menjadi relawan VIVAT/PADMA. Bantuan pangan dan sandang bagi pengungsi, terutama mereka yang tinggal di rumah-rumah keluarga.

VIVAT/PADMA sudah melayani di 5 lokasi dengan jumlah pengungsi sebanyak 1.066 jiwa dengan rincian: Tanjung Selamat = 380 jiwa; Desa Lam Cot, Kec. Darul Imarah = 158 jiwa; Desa Durong Kec. Masjid Raya = 202 jiwa; Desa Miruk Kec. Krueng Baruna Jaya = 203 jiwa; Desa Babah Jurong = 123 jiwa.

VIVAT/PADMA juga membantu pembangunan Taman Anak yang berlokasi di Desa Babah Jurong, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar. Pembangunan hingga saat ini telah selesai sekitar 40% dan diharapkan dapat selesai dalam waktu 10 hari mendatang. Pekerjaan dilakukan langsung oleh 6 orang Relawan VIVAT/PADMA.

Aceh-Singkil:
Persiapan Menyambut Pengungsi

Laporan awal Januari 2005 dari Gabriel Goa Sola, Andre Koban, Alex Poto Obe dan Charles Lanang SVD tentang situasi di Aceh-Singkil sebagai berikut: ada 7 (tujuh ) tenda yang disiapkan Pemda Kab. Aceh-Singkil di GOR, satu dari tujuh tenda tersebut dimanfaatkan oleh Posko Kemanusiaan Keuskupan Agung Medan (PK KAM). Posko-posko itu didirikan dengan pertimbangan untuk menampung pengungsi dari wilayah Meulaboh. Hingga kini semuanya belum ditempati para pengungsi. Ada juga Posko Pusat yang terletak di samping kantor Bupati Aceh-Singkil. Menurut informasi dari Sekda dan Ketua Posko Bpk. H.M. Syafii Nasution SH yang sudah mereka bantu adalah 100 KK dan mereka semua sudah kembali ke Sinabang, Kab. Simeulue pada tanggal 6 Januari 2005. Yang ada di Singkil saat ini tinggal 5 (lima) KK dan telah ditampung di rumah-rumah keluarga. Pemda saat ini sedang membantu warga di Kec. Pulau Banyak tapi tidak dengan perhatian yang besar karena, menurut data yang ada, di sana tidak ada korban jiwa. Ada 400 rumah warga rusak dan warga yang rumahnya rusak saat ini tinggal bersama keluarga.

Menurut Sekretaris Daerah Aceh-Singkil, tempat mereka hanya dijadikan Transito Posko Nasional untuk penyaluran bantuan kemanusiaan ke Sinabang dan Meulaboh melalui pelabuhan laut Singkil. Yang paling dibutuhkan untuk jangka pendek di Sinabang adalah obat-obatan, makanan dan minuman. Namun, dari aktivis OAM yang membawa bantuan WFP (World Food Program) dan telah melakukan investigasi di Sinabang diperoleh inforamasi bahwa masyarakat membutuhkan bahan makanan, khususnya beras; sedangkan obat-obatan kurang dibutuhkan.

Dalam kenyataannya, banyak pihak sudah membantu para korban di Meulaboh. Sedangkan para korban di Pulau Banyak (45 menit dengan speedboat carteran Rp. 1 juta; 4 jam dengan kapal motor biasa, dari Singkil) baru mendapat bantuan dari Pemda Aceh-Singkil dan LSM lokal.

Pemda Aceh-Singkil menerima dengan sangat baik kehadiran Tim VIVAT/PADMA untuk membantu mereka. Mereka juga sudah mendaftar Tim VIVAT/PADMA sebagai salah satu Lembaga Sosial yang akan membantu para pengungsi jika sudah berada di Singkil.

Berdasarkan informasi bahwa di Singkil tak korban yang membutuhkan bantuan darurat maka Tim VIVAT/PADMA memutuskan untuk menghantar bantuan darurat bagi para korban di Pulau Banyak. Pada saat Tim Padma mengalami kesulitan untuk mendapatkan kendaraan ke Pulau Banyak, datanglah Camat Singkil sedang mencari bantuan untuk 30 KK korban yang belum teridentifikasi sebelumnya. Karena itu, bantuan tersebut dialihkan untuk para korban di Singkil baik yang tinggal di kemah ataupun yang tinggal di rumah-rumah keluarga.

Ketika mendapatkan informasi lanjutan bahwa sejak menerima bantuan awal dari Tim PADMA para korban di Singkil tidak mendapatkan bantuan lagi maka pada tanggal 26 Januari, Charles Lanang SVD, Alex Poto Obe dan Hendrik berangkat ke Singkil membawa bantuan darurat: beras, kacang hijau dan susu untuk anak-anak dan juga alas tidur (tikar). Tim kita juga menyaksikan bahwa Pemda sedang membangun rumah-rumah penduduk. Dalam konsultasi dengan pihak kita, Pemda meminta agar kita membangun sarana MCK dan membantu pengadaan air minum (sumur bor).

Selain itu, kita juga sudah memberi bantuan untuk 16 KK, berupa pengadaan 16 buah perahu. Dalam kontrak kerja dengan pembuat perahu itu, pesanan itu akan selesai dikerjakan sesudah tiga bulan. Sesudah pengerjaan perahu diselesaikan maka kita juga akan membantu pengadaan alat penangkapan ikan bagi para nelayan.

Nias:
Para Korban yang Nyaris dilupakan

Johan Octavianus Enas dari Tim VIVAT/PADMA berada di Nias tanggal 4-11 Januari untuk melakukan investigasi dan memberikan bantuan darurat. Dalam laporannya, Johan menulis sebagai berikut: Pulau Nias merupakan satu wilayah otonom di Propinsi Sumatera Utara yaitu Kabupaten Nias yang beribukotakan Gunung Sitoli. Sedikitnya 22 desa dari 4 kecamatan yaitu Kec. Afulu, Kec. Lahewa, Kec. Mandrehe dan Kec. Sirombu terkena dampak dari bencana tsunami itu. Hingga saat ini bisa dikatakan pemberitaan tentang bencana di daerah kepulauan ini sangat jauh dari publikasi media massa. Daerah yang dalam keadaan normal saja sudah terisolasi karena harus melewati jalan yang berlubang sana sini serta beberapa jembatan yang tidak bisa dilewati secara berlawanan arah dua kendaraan, apalagi dengan terjadinya bencana alam ini. Padahal dari tragedi akhir tahun 2004 tercatat sebanyak 122 orang meninggal dunia dan 18 orang hilang. Belum lagi ditambah dengan rusaknya sejumlah fasilitas publik lainnya.

Sejumlah relawan dan Tim VIVAT/PADMA mencatat bahwa di Nias sebanyak 4.128 jiwa mengungsi di 4 lokasi kecamatan yang tersebar di sepanjang garis pantai Nias Barat. Dari jumlah tersebut hanya beberapa keluarga saja yang tinggal di tenda penampungan. Masyarakat korban lebih memilih tinggal di rumah-rumah keluarga yang ada di sekitar daerah itu.

Keuskupan Sibolga membentuk jaringan koordinasi bantuan yaitu dengan membentuk 3 titik pendistribusian bantuan yang masuk. Tiga titik pendistribusian itu adalah Sibolga (Keuskupan sebagai Pusat Koordinasi dan penampungan bantuan sementara) – Gunung Sitoli (Paroki Sta. Maria berfungsi sebagai tempat penampungan bantuan) – Paroki Salib Suci, Sirombu (tempat distribusi bantuan).

Sejalan dengan temuan investigasi awal di sana maka bantuan awal yang telah diberikan kepada para korban di Nias (Desa Mandrehe dan Desa Sirombu), adalah bahan makanan, pakain dan obat-obatan. Bantuan itu disalurkan melalui Rm. Mikael To Pr, Pastor Paroki St. Maria Gunung Sitoli, Nias, pada tanggal 5 Januari 2005. Sampai saat ini, kegiatan-kegiatan kemanusiaan bagi para pengungsi di Nias (sekitar 1.000 orang) adalah memberikan bantuan makanan, minuman, pengobatan dan pakaian.

Karena kesulitan dalam menyalurkan bantuan secara langsung kepada para pengungsi, khususnya yang beragama Islam, maka Tim VIVAT/PADMA telah membangun kerja sama dengan saudara-saudari Muslim. Khusus untuk para pengungsi di Singkil, Tim SAKSI, melalui Rm Hanz, Pr – Sekretaris Administrator Keuskupan Sibolga - telah mendekati saudara-saudari Muslim di Keuskupan Sibolga. Mereka diminta untuk membantu Tim PADMA dalam mendistribusikan bantuan sandang, pangan, pengobatan dll. kepada para pengungsi di Singkil. Permintaan ini telah mendapat tanggapan positip dari saudara/i Muslim.

Solidaritas dari Komunitas-Komunitas Kita:
SSpS Surabaya, SVD Malang , SSpS & SVD Maumere & Ledalero

Selain mengirim para suster relawan ke daerah bencana, di Surabaya suster-suster SSpS bersama para relawan kemanusiaan, khususnya para mahasiswa dan umat dari Paroki Hati Kudus Yesus, Surabaya mengadakan aksi kemanusiaan. Mereka mengumpulkan dan kemudian membungkus obat-obatan yang dibutuhkan dan kemudian mengirimnya kepada para korban. Di Seminari Tinggi SVD Malang, para sama saudara kita berdoa, mengumpulkan dana bantuan dan mengurangi jatah makanan. Kirim suster, obat, perawat dari RSK St. Vinsensius a Paulo, Para mahasiswa PMKRI, Umat Paroki Hati Kudus Yesus.

Di Maumere, para suster SSpS di bawah koordinasi Sr. Eustochia Nata SSpS mengadakan malam pengumpulan dana untuk para korban. Sementara itu, sama saudara kita dari Seminari Tinggi Ledalero dan Candraditya Research Centre – dalam kerja sama dengan pimpinan gereja lokal setempat, komunitas-komunitas religius dan para aktifis – berusaha memotivasi umat Keuskupan Agung Ende agar menunjukkan rasa setia kawan yang konkret para korban gempa dan tsunami.

Sebagai tanda solidaritas dari umat keuskupan Agung Ende, semua kolekte misa pada hari Minggu 16 Januari 2005 di seluruh wilayah keuskupan akan dikirim untuk para korban bencana. Para mahasiswa dari STFK Ledalero mengumpulkan sumbangan di tempat publik. Tanggal 2 Februari 2005, kelompok pertama Relawan Flores, yang semuanya berasal dari Komunitas Seminari Tinggi Ledalero, berjumlah 8 orang sudah tiba di Martubung, Medan, dan sedang bersiap untuk berangkat ke Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Nias.

Vivat Internasional Indonesia:
Koordinasi untuk suatu Pelayanan yang lebih Efektif

Hari Jumat, 28 Januari 2005, di Wisma SVD, Jalan M. Saidi Jakarta, diadakan pertemuan koordinasi SVD & SSpS Indonesia untuk korban bencana Aceh. Pertemuan ini dikoordinir oleh Leo Kleden SVD, anggota Dewan Pimpinan Pusat SVD di Roma. Hadir pada kesempatan itu, antara lain, semua Provinsial SVD Indonesia, Provinsial SSpS Jawa, Rektor Seminari Ledalero, Rektor Seminari Malang dan Helmut Tomisky SVD, Prokur Misi SVD di Sankt Agustin Jerman. Maksud dari pertemuan ini adalah menetapkan tanggapan SVD dan SSpS Indonesia atas akibat dari bencana gempa dan tsunami di Aceh. Tanggapan kita adalah suatu yang urgen mengingat Aceh secara politik adalah daerah darurat militer, dan secara sosial adalah suatu wilayah yang ditutup oleh militer sekian lama.

Leo mengingatkan bahwa dari media kita tahu ada janji bantuan dari pihak internasional tetapi realisasinya belum jelas. Janji bantuan untuk Afrika dan Irak, misalnya, sampai kini belum terealisasi sepenuhnya. Sekarang ini banyak orang membantu tetapi tidak banyak orang yang akan membantu untuk suatu jangka waktu yang relatif panjang. Kita ditantang untuk membantu secara lebih baik; membantu dengan tangan dan hati. Struktur koordinasi yang ada yang dikoordinir oleh Norbert Betan SVD terus dipertahankan, hanya diperkuat dan dikembangkan agar lebih efektif demi pelayanan kemanusiaan.

Pertemuan itu menyepakati suatu struktur koordinasi yang diberi nama Vivat Internasional Indonesia – PADMA Indonesia. Presidium dari tim ini adalah Provinsial SVD Jawa, Provinsial SSpS Jawa dan Provinsial SVD Ende. Koordinator umumnya adalah Norbert Betan SVD yang dibantu oleh Tim Inti dalam bidang Investigasi, Relawan, Keuangan, Sekretariat dan Desain Proyek. Paul Payong SVD dan Bapak Felix Mamudi SH menjadi koordinator lapangan (eman/Martubung).