Divine Word Missionaries

Peace and Justice Issues


Peace
&
Justice


Index

Spiritualitas Rekonsiliasi


Back to

Peace & Justice

Members' Area

Site Map

Home


SPIRITUALITAS REKONSILIASI

Dasar Biblis dari Spiritualitas Rekonsiliasi

asar biblis dari pengertian rekonsiliasi dapat ditemukan secara khusus dalam kisah-kisah seperti Esau dan Yakub, Yusuf dan saudara-saudaranya di dalam kitab Kejadian atau anak bungsu pada Injil Lukas. St. Paulus adalah seseorang yang berbicara tentang rekonsiliasi secara amat langsung. Saya ingin memulainya dengan mengusulkan lima prinsip yang berasal dari refleksi-refleksinya yang secara khusus berdasarkan pada 2 Kor 5:17-20.

Rekonsiliasi pertama-tama dan terutama adalah karya Allah.

Kita percaya bahwa keselamatan berasal dari Allah dan bukan dari usaha-usaha kita. Apa yang nampak dalam usaha rekonsiliasi, secara khusus rekonsiliasi sosial, adalah besarnya kerusakan sosial itu yang melampaui segala usaha apapun dari pihak manusia untuk memperbaikinya. Hanya Allah yang mempunyai perspektif yang dapat memilah-milah segala sesuatu. Kita adalah agen dari kegiatan Allah – “utusan bagi kepentingan Kristus.” Hanya dengan hidup dalam persatuan dengan Allah, kita dapat mengenali bagaimana Allah menyembuhkan dunia. Untuk alasan inlah, rekonsiliasi lebih merupakan suatu spiritualitas daripada suatu strategi. Kalau tidak menyadari ini, usaha rekonsiliasi akan menuntun pada titik kehabisan tenaga secara fisik dan psikologis ketika usaha-usaha ini mengalami kegagalan (seperti yang dialami banyak orang).

Karya rekonsiliasi Allah dimulai dari sang korban

Biasanya kita berpikir tentang rekonsiliasi seperti ini: sang pelanggar bertobat dan meminta pengampunan dari sang korban. Lalu korban mengampuni pelanggar maka terjadilah rekonsiliasi. Ini merupakan ide yang indah tetapi dalam realitas pelanggar seringkali tidak bertobat. Kadang-kadang pelanggar yakin bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun (pemerintah yang berwenang seringkali menekankan hal ini). Pada situasi lain, bahkan pelanggar tidak hadir atau tidak dapat dikenali identitasnya (pelanggar mungkin sudah meninggal atau bahkan tidak diketahui). Dimanakah korban ditinggalkan dalam situasi ini? Apakah penyembuhan bagi korban tergantung dari kemampuan pelanggar untuk datang dan bertobat?Apakah korban tersandera sampai saat yang mungkin tak pernah akan terjadi itu? Oleh karena itu dalam pengertian rekonsiliasi, kita yakin bahwa Allah memulainya dari sang korban. Allah menyembuhkan korban dengan memulihkan kemanusiaan yang telah direbut dengan paksa oleh pelanggar dari korban – dengan menyatakan bahwa mereka semata-mata adalah objek (dalam kasus pemerkosaan atau jual beli sex) atau bukan seorang pribadi (dalam kasus penculikan atau masyarakat yang terusir dari tanah air mereka). Bahwa Allah memulainya dari korban adalah sejalan dengan pengertian kita tentang Allah yang memperhatikan para janda dan yatim piatu, orang-orang asing dan para tawanan. Tidak setiap korban dapat menerima tawaran penyembuhan tetapi tawaran penyembuhan ini mengungkapkan inti pengertian rekonsiliasi secara kristiani.

Allah membuat kedua-duanya, baik korban maupun pelanggar sebagai “ciptaan baru”.

Untuk disembuhkan dari trauma masa lalu atau untuk diampuni dari apa yang telah dilakukan seseorang, tidaklah berarti kalau kita kembali kepada bagaimana hal-hal berlangsung sebelum terjadinya konflik atau pada saat trauma terjadi. Ini akan meremehkan kerusakan yang dilakukan oleh setan. Dalam kasus keduanya – penyembuhan dan pengampunan – sang korban dan sang pelanggar menemukan diri mereka sendiri di tempat yang baru, di sebuah tempat dimana mereka tidak dapat mendahuluinya. Penyembuhan datang sebagai suatu kejutan. Rekonsiliasi bagi korban merupakan hal yang lebih besar dari terangkatnya beban masa lalu. Ini merupakan saat datang ke tempat yang baru dan dianugerahi suatu visi tentang suatu dunia yang lain. Untuk alasan inilah, proses-proses dari rekonsiliasi sosial sebaiknya dipimpin oleh orang-orang yang telah mengalami penyembuhan karena mereka dapat melihat apa yang sebagian dari kita tak dapat melihatnya.

Kita menempatkan penderitaan kita di dalam kisah penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus.

Penderitaan pada hakekatnya bukanlah hal yang mulia melainkan hal yang merusak orang-orang dan masyarakat. Hanya kalau hal ini dibawa kepada tata sosial yang baru dan dihubungkan kembali di dalam jaringan relasi maka penderitaan menjadi hal yang mulia dan bahkan menjadi penebusan. Sebagai orang kristen, kita menempatkan kisah penderitaan kita di dalam kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Ini terungkap secara baik dalam Flp. 3:10, dimana Paulus mengatakan kalau ia ingin mengenal Kristus dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya sehingga ia juga boleh mengenali Dia dalam kebangkitanNya. Kisah Yesus merupakan kerangka yang memberikan harapan dan makna bagi mereka yang mencari pembebasan dari kesakitan mereka sendiri.

Rekonsiliasi yang sepenuhnya akan terjadi bila Allah ada dalam segala-galanya.

Madah yang mengawali surat-surat St. Paulus kepada umat di Efesus dan Kolose mengingatkan kita bahwa rekonsiliasi yang kita alami sekarang belumlah genap. Ini hanya akan digenapi ketika Kristus mendamaikan segala sesuatu. Dalam usaha rekonsiliasi, diingatkan kepada kita akan perbedaan optimisme dan harapan: optimisme muncul dari kepercayaan tentang apa yang dapat kita lakukan sedangkan harapan adalah kepercayaan akan apa yang akan dibuat Allah. Harapan memberikan kepada kita cakrawala dan visi masa depan yang jauh lebih luas.

Rekonsiliasi individual dan sosial

Harus dikatakan tentang perbedaan antara bekerja dengan individu-individu yang mengalami trauma dan bekerja bagi penyembuhan sosial. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, pengertian rekonsiliasi secara kristiani adalah tentang pemulihan kemanusiaan korban, pemulihan keberadaan manusia sebagai citra Allah (Kej. 1:27). Rekonsiliasi soial menyangkut pada pembangunan kembali masyarakat setelah konflik. Ini memfokukskan usaha-usahanya pada pemulihan moral dan simbolik dari suatu masyarakat karena hal-hal ini merupakan dasar untuk menyakinkan bahwa konflik tidak akan terjadi lagi. Rekonsiliasi sosial yang dimengerti dalam hal ini menyangkut soal-soal: mengatakan kebenaran, mengejar keadilan, penyembuhan daya ingatan dan pengampunan sosial.

Spiritualitas kristiani dari rekonsiliasi

Sekarang saya akan beralih kepada suatu spiritualitas yang dapat menopang mereka yang bekerja dalam usaha rekonsiliasi. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tanpa spiritualitas strategi-starategi rekonsiliasi ( transformasi konflik, membuat perdamaian) akan menjadi sulit untuk menopangnya. Spiritualitas yang diusulkan di sini adalah penting bagi kedua-duanya, baik rekonsiliasi individual maupun sosial.

Seperti bentuk-bentuk spiritualitas yang lain, simbol-simbol memainkan peranan penting dalam memfokuskan spiritualitas kita dan bersama-sama membimbingnya. Simbol-simbol mewujudkan konsep-konsep tetapi memiliki gema yang lebih kaya. Demikian juga kisah-kisah menjamin kita akan sebuah jalan untuk menghubungkan bersama-sama kejadian-kejadian yang telah mengubah kehidupan kita. Dalam rekonsiliasi, kisah-kisah amatlah penting – entah kisah-kisah tentang apa yang terjadi pada para korban dan bagaimana mereka sampai pada penyembuhan, atau kisah-kisah dari apa yang terjadi pada kita sebagai pribadi dan bagaimana kita sampai pada dimana kita sekarang ini.

Dalam bagian ini, saya ingin menggali sebuah simbol yang menjadi pusat dari spiritualitas rekonsiliasi dan menggambarkannya dengan beberapa kisah, baik dari pengalaman jaman ini maupun dari Kitab Suci. Kemudian saya akan beralih pada latihan-latihan spiritualitas rekonsiliasi yang muncul dari simbol ini.

Luka-luka batin sebagai sumber spiritualitas rekonsiliasi

Ketika kita berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi dari peristiwa-peristiwa yang telah mengubah kehidupan kita secara negatif untuk selama-lamanya maka simbol luka-luka muncul seketika di pikiran kita. Sebuah luka bukanlah sekedar saksi dari suatu kenyataan bahwa sesuatu yang salah telah terjadi. Luka yang bernanah atau bekas-bekas dari sesuatu yang terluka memberi kesaksian akan peranan daya ingatan dalam kehidupan kita. Dalam kasus luka-luka yang mendalam pada tubuh kita dan jiwa kita, luka-luka itu tak pernah menghilang. Luka-luka ini adalah tanda-tanda dari perubahan tetap yang masih akan terjadi dalam kehidupan kita. Apabila luka-luka masih terbuka maka luka-luka ini menghubungkan kita dengan masa lalu sedemikian rupa sehingga kita tak dapat melarikan diri dengan mudah. Apabila luka-luka sudah berubah menjadi bekas-bekas maka luka-luka berfungsi seperti pintu gerbang dari kenangan masa lalu yang mengingatkan kita bahwa sekarang kita berada di tempat lain.

Luka-luka batin memainkan peranan yang positif dan negatif dalam rekonsiliasi. Pertama-tama marilah kita melihat pada luka-luka sang korban. Apabila luka-luka pada korban masih terbuka maka luka-luka ini akan bernanah dan menganggu korban yang menyandangnya. Luka-luka ini akan dapat menarik korban kembali secara terus menerus kepada saat-saat dimana mereka disakiti. Luka-luka ini dapat menjadi titik pandang yang membuat segala sesuatu diinterpretasikan dalam hubungannya dengan rasa sakit yang terus berlangsung. Sebuah contoh yang dramatik adalah yang terjadi pada tahun 1989. Dalam pidatonya Slobodan Milosevic mengingatkan orang-orang Serbia akan peertempuran di lapangan Blackbirds enam ratus tahun yang lalu, yang mana orang-orang Serbia Ortodoks dikalahkan oleh orang-orang Turki Ottoman. Kenangan itu masih merupakan racun sehingga membuat orang-orang Balkan siap untuk terjun dalam perang selama enam tahun kemudian.

Luka-luka batin yang tidak diperhatikan dapat terus meracuni kejadian-kejadian di masa depan. Kita tahu orang-orang yang membawa kemarahan dari pelanggaran yang dilakukan terhadap mereka pada tahun-tahun sebelumnya dan yang tidak pernah sembuh. Kehidupan mereka tetap tersandera oleh kejadian masa lalu. Salah satu bahaya besar dari kelalaian dalam memperhatikan luka-luka ini adalah perubahan status para korban, dari sang korban menjadi sang pelaku pelanggaran terhadap orang-orang lain. Dalam konflik-konflik masyarakat sipil, kadang-kadang hampir tidak mungkin untuk memilah-milah siapa yang menjadi korban dan siapa yang menjadi pelaku karena banyak kali pihak-pihak yang ada terlibat kedua-duanya. Demikian juga merupakan hal yang umum bahwa orang-orang yang menderita di bawah rezim otoritarian berubah menjadi tak mengenal hukum, anarki, atau hedonisme setelah masa penindasan telah berlalu. Padahal hal-hal ini merupakan tingkah laku yang tidak akan mereka terima pada saat- saat terbaik mereka. Ini terjadi karena kuasa luka-luka batin diabaikan atau ditekan.

Oleh karena itu dalam pelayanan rekonsiliasi, seseorang harus memperhatikan secara khusus status luka-luka batin para korban

Tetapi bagaimana bila luka-luka batin telah tersembuhkan? Mereka yang telah memperhatikan luka-luka mereka adalah calon-calon yang terbaik untuk bekerja bagi rekonsiliasi. Luka-luka dari mereka yang mengalami penyembuhan dapat berkembang menjadi sebuah empati yang khusus terhadap sesama yang menderita. Mereka memiliki sebuah perspektif tentang bagaimana menjadi terluka, yang bisa amat sulit bagi orang-orang lain yang berkehendak baik sekalipun untuk mengembangkannya. Para penyembuh yang terluka ini dapat memasuki alam penderitaan dan kesakitan dari para korban dengan cara yang unik. Mereka dapat mendampingi para korban dengan cara-cara yang tidak diketahui oleh sebagian dari kita. Sungguh para penyembuh yang terluka ini seringkali mengembangkan panggilan mereka dalam menolong sesama sebagai bagian dari proses penyembuhan.

Tetapi luka-luka batin dari penyembuh dapat juga mempunyai konsekuensi negatif. Jika yang akan menjadi penyembuh tidak mengenali kehadiran luka-lukanya (entah dengan tidak memperhatikannya atau menyangkalnya), luka-luka mereka dapat menyusup dalam cara-cara mereka dalam membantu sesama. Ini dapat terjadi dalam berbagai cara yang berbeda-beda. Pertama-tama luka-luka yang tak dikenali dapat mengendap dalam tingkah laku para penyembuh yang altruistik kompulsif sebagai cara untuk menebus luka-luka di masa lalu. Ini dapat terwujud dalam bentuk “membutuhkan untuk dibutuhkan” sebagai cara untuk menebus luka-luka di masa lalu. Pada waktu yang lain, para penyembuh tidak mengijinkan para korban untuk maju terus kalau para korban sudah tidak membutuhkan mereka lagi.

Kedua luka-luka batin yang tak dikenali dapat menjadi syakit syaraf kalau ingatan akan luka-luka ini dihidupkan kembali oleh kejadian-kejadian di masa sekarang, proses penyembuhan diselewengkan ke arah penyembuh dan menyeleweng jauh dari korban. Akhirnya luka-luka yang tak dikenali bisa menyebabkan penyembuh mengambil resiko-resiko yang tak terbayarkan, membahayakan baik penyembuh maupun korban. Ini khususnya dalam kasus orang-orang yang membawa luka-lukanya dan kemudian menemukan diri mereka sendiri dalam situasi-situasi konflik.

Disini saya berbicara lebih mendalam tentang luka-luka batin yang tak dikenali sebab kita seringkali menemukan hal ini diantara para anggota lembaga-lembaga hidup religius. Orang-orang yang terluka ini mungkin tertarik akan hidup religius itu sendiri, atau akan pekerjaan yang membahayakan, atau akan pekerjaan bagi rekonsiliasi untuk membuktikan pada diri mereka sendiri dan pada Allah bahwa mereka sama sekali tidak terluka, atau bahwa mereka dapat membuat perbaikan atas luka-luka yang mereka bawa. Secara khusus hal ini terbukti dalam diri orang-orang yang terlibat dalam kegiatan yang hingar-bingar, atau menempatkan diri mereka pada resiko fisik yang tak perlu bagi keamanan diri mereka sendiri dan juga orang lain.

Satu potensi konsekuensi negatif lain dari luka-luka batin yang tak dikenali bagi mereka yang bekerja dalam rekonsiliasi harus disebutkan juga. Bahkan luka-luka yang telah tersembuhkan dapat menjadi sasaran dari serangan baru ketika bekerja dalam situasi-situasi traumatik. Ketika seseorang dihadapkan pada pembunuhan massa, pemuntungan individu-individu secara sengaja, penggunaan pemerkosaan sebagai suatu strategi atau dengan kata lain seseorang melihat perbuatan setan secara langsung. Bekerja dalam jangka waktu yang panjang dalam situasi-siatusi semacam itu dapat sungguh ditafsirkan seperti bergulat dengan kejahatan yang menginkarnasi. Kejahatan tidak menyerah kalah dengan mudah dan akan menghantam setiap kali melihat ada kesempatan untuk mempertahankan cengkeramannya. Meskipun kita mengetahui kejahatan dalam lingkungan-lingkungan seperti ini, hal ini membutuhkan seluruh kekuatan kita termasuk pengertian kita sebagai manusia itu sendiri. Kalau kita tidak memperhatikan diri kita sendiri maka kita ada dalam resiko akan kehilangan kemanusiaan kita sendiri. Saya telah melihat orang-orang yang tidak memperhatikan luka-luka mereka sendiri dari masa lalu, yang ditengah-tengah bekerja bagi rekonsiliasi, mulai melakukan tingkah laku yang dipertanyakan atau bahkan melakukan perbuatan yang salah yang mereka sendiri tidak akan menerimanya dalam keadaan normal. (ini disebut dalam kepustakaan psikologi sebagai “trauma yang kedua” – dimana mengalami begitu banyak trauma orang-orang lain sehingga menimbulkan trauma bagi orang yang mencoba membantunya)- Sebagai contoh sederhana: kalau kamu tidak memperhatikan luka-lukamu sendiri – bahkan kalau luka-luka itu telah sembuh – kejahatan akan menyerangmu pada bagian itu secara khusus.

Penyajian tentang luka-luka ini pada pekerjaan bagi rekonsiliasi, baik luka-luka dari para korban maupun dari mereka yang akan membantu para korban – pertama-tama kelihatannya bersifat psikologis atau sosiologis. Tetapi hal ini merupakan persiapan untuk membahas spiritualitas rekonsiliasi. Mengikuti dasar-dasar teologis yang menyinggung soal rekonsiliasi di atas, kita menempatkan luka-luka kita dalam kisah penderitaan Kristus sendiri, wafat dan kebangkitanNya. Kisah biblisnya terdapat dalam Yoh. 20: 19-29. Ketika Yesus muncul kepada para rasulNya meskipun pintu-pintu tertutup, hal pertama yang dilakukanNya adalah menunjukkan luka-lukaNya kepada mereka. Suatu paradoks yang mendalam terbentang di sini.Yesus, dalam tubuh yang bangkit dan mulia – tubuh yang dapat menembusi pintu-pintu yang tertutup – masih menyandang luka-luka penyiksaan dan kematianNya. Ketika para rasul tidak mengenaliNya maka Ia menunjukkan luka-luka itu kepada mereka sebagai bukti siapa Ia.

Saya kira perbuatanNya itu mempunyai dua arti bagi kita. Pertama-tama, seperti yang telah dikatakan, bahkan luka-luka yang telah sembuh tinggal selama-lamanya sebagai bagian dari siapakah diri kita. Bahkan dalam tubuh Tuhan yang bangkit, luka-lukaNya masih tetap ada. Mungkin Yesus menggunakan luka-luka itu untuk mengidentikkan diriNya sendiri guna mengajar kebenaran kepada kita. Daya ingatan dan relasi kita dengan masa lalu membantu membentuk diri kita yang sekarang dan diri kita yang mungkin akan menjadi di masa depan.

Luka-luka ini mengajarkan hal kedua bagi kita. Ketika Yesus menggunakan luka-lukaNya untuk mengidentikkan diriNya sendiri kepada para rasul, kita menyadari bahwa luka-luka itu bukanlah suatu kebetulan atau hal sampingan tentang bagaimana Yesus berpikir tentang diriNya sendiri. Luka-luka ini menjadi bagian dari tanda tanganNya maka dikatakan bahwa kemudian para rasul diutus untuk menawarkan pengampunan Allah. Luka-luka yang kita miliki dimaksudkan untuk menjadi sumber penyembuhan bagi sesama. Hal ini digambarkan secara lebih luas dalam adegan berikutnya dalam kisah ini. Tomas, yang tidak hadir ketika Yesus muncul kepada para rasul, menolak untuk mempercayai apa yang didengarnya. Mungkin ia sekedar tidak dapat membayangkan hal itu. Mungkin ia marah karena ia tak diikutkan dalam pengalaman itu. Ketika Yesus muncul di lain waktu, hal pertama yang dilakukan oleh Yesus adalah menemui Tomas. Ia mengundangnya, tidak hanya melihat luka-lukanya, melainkan menyentuhnya, sungguh masuk kedalamnya. Yesus menggunakan luka-luka dari penyiksaanNya – yang dimaksudkan untuk memutuskan hubunganNya dengan manusia-manusia lain – untuk memulihkan hubunganNya dengan Tomas, dengan para rasul yang lain, dan dengan diri batiniahNya sendiri. Mungkin disini kita dapat mengerti lebih baik teks kitab suci “dengan luka-lukaNya kita disembuhkan” (Yes. 53:4; 1 Ptr. 2:24)

Dengan mengenali luka-luka batin kita, dengan menempatkannya di dalam luka-luka Yesus, dengan menghubungkan kisah kita dengan kisah Yesus, kita dapat membiarkan luka-luka kita menjadi penebusan bagi sesama. Kita dapat menunjukkan kepada sesama bahwa mereka tidaklah sendirian dan tidaklah terputus dari jalinan kehidupan umat manusia. Dengan menjadi serupa dalam kematian Kristus, kita dapat mengenal kebangkitan (Flp. 3:10). Spiritualitas rekonsiliasi menemukan maknanya dengan memberi perhatian pada luka-luka: luka-luka dari para korban, luka-luka dari mereka yang bekerja bagi penyembuhan dan luka-luka Kristus.

Saya ingin menyimpulkan bagian ini tentang spiritualitas rekonsiliasi berdasarkan pada teks Paulus yang lain tentang luka-luka, yang dikutip dari 2 Kor.4: 7-11:

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya hidup Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

Ayat-ayat ini menangkap banyak segi dari spiritualitas luka-luka. Rekonsiliasi adalah harta, anugerah dari Allah. Tetapi harta ini dibawa dalam bejana tanah liat, yaitu di dalam diri kita sendiri sebagai manusia yang rapuh yang menjadi agen dari karya Allah. Menggali luka-luka yang menandai kita dan kembali kepada ingatan-ingatan itu menarik kita untuk melalui setumpukan emosi: pengalaman-pengalaman penderitaan, kebingungan, penyiksaan dan terhempas. Tetapi bahkan ditangah-tengah pengalaman-pengalaman demikian, suatu kekuatan memampukan kita untuk melaluinya: kita tidak hancur, tidak berputus asa, tidak ditinggalkan atau tidak binasa. Mereka yang bekerja dalam pelayanan rekonsiliasi akan mengenali emosi-emosi ini dalam diri para korban dan seringkali juga dalam diri mereka sendiri.

Apa yang menjadi jelas di sini adalah disamping segala permusuhan ini, kita tidak direndahkan karena harta yang ada di dalam diri kita. Paulus mencatat sebagai suatu paradoks yang membuat segalanya mungkin: kami membawa kematian Yesus dalam tubuh kami. Bahasa yang digunakan di sini sungguh mempunyai arti. Banyak kesengsaraan yang menjerit bagi rekonsiliasi tertulis pada tubuh kita – entah pada tubuh kita masing-masing, seperti dalam kasus penyiksaan dan pemerkosaan; atau dalam tubuh politik, dalam kaitannya dengan ingatan politik. Daya ingatan tidaklah hanya intelektual atau emosional melainkan seringkali soal somatik secara mendalam. Kematian Yesus yang kita bawa merupakan ingatan somatik: beban kematianNya tertulis dalam tubuh kita. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak dapat dilupakan. Kematian Yesus adalah sebuah luka ingatan yang memiliki banyak segi. Ini merupakan sebuah luka yang terletak pada inti keberadaan kita maka mengubah arah dari hal-hal yang membuat kita menderita. Kita tak dapat berpaling dari luka-luka itu, juga tidak dapat menghindarinya dari hati dan pikiran kita seolah-olah melupakannya. Luka-luka menarik penderitaan kita pada hakekatnya sendiri tetapi hakekatnya itu bukanlah pusat perhatian. Melainkan luka-luka ini melampaui hakekatnya sendiri dan menunjuk pada kebangkitan Yesus ketika luka-luka akan dirubah bentuknya dan menjadi sarana penyembuhan.

Johannes Baptist Metz telah berbicara tentang ingatan yang berbahaya dari Yesus Kristus – berbahaya karena ini membebaskan, berbahaya karena usaha untuk mengakhiri kisah Yesus dengan menghapuskan kehidupanNya hanya akan menyebabkan ledakannya dalam segi lain. Rahmat penyembuhan dari rekonsiliasi, kehidupan Kristus yang menjadi nyata dalam tubuh kita memiliki bahaya yang sama dan potensi yang membebaskan. Inilah perbedaannya antara dihempaskan melainkan tidak binasa. Kemampuan Allah untuk memperdamaikan segala sesuatu dalam Kristus, untuk mengadakan pendamaian oleh darah salibNya (Kol. 1:20) membuka selubung bagi kita hubungan antara luka-luka kita, luka-luka Kristus dan hati yang terluka dari Allah yang begitu mengasihi dunia.

Latihan-latihan dari spiritualitas rekonsiliasi

Latihan-latihan apakah yang mewujudkan spiritualitas rekonsiliasi ini? Saya ingin menyajikan dua latihan:

  1. latihan doa kontemplatif dan
  2. mengadakan ruangan yang aman dan ramah.

Doa kontempalatif mungkin kelihatannya seperti sebuah latihan rohani yang aneh bagi sesuatu yang aktif seperti pekerjaan bagi rekonsiliasi. Tetapi paling sedikit ada tiga alasan yang baik untuk melakukan usulan ini.

Pertama, jikalau rekonsiliasi pertama-tama dan terutama adalah karya Allah dan kita hanyalah merupakan agen-agen Allah maka agar kita tetap menjadi agen yang setia dan efektif, kita harus berkontak secara terus menerus dan bersatu dengan Allah. Secara khusus doa kontemplatif cocok untuk maksud itu. Dalam doa kontemplatif, kita tidak memulai kegiatan – seperti yang mungkin kita lakukan dalam doa permohonan atau doa pujian. Melainkan kita belajar menunggu dalam keheningan dan kesabaran sampai Allah berbicara. Saat menunggu Allah ini menciptakan ketenangan dalam diri kita yang memampukan kita untuk mendengarkan Allah ketika Allah bersabda kepada kita. Keheningan semacam itu, kesabaran menunggu mempunyai efek yang wajar yang akan mengajarkan kepada kita bagaimana menunggu dan mengamat-amati bersama mereka yang mencari penyembuhan. Para korban seringkali perlu menceritakan kisah-kisah mereka lagi dan lagi sebelum kata penyembuhan muncul.

Kedua, latihan doa kontemplatif menyiapkan saat-saat dimana Allah tidak mengatakan apa-apa kepada kita. Kembali kepada doa kontemplatif bahkan ketika kita tidak mendapatkan apa-apa dari Allah seringkali merupakan persyaratan bagi trasformasi spiritual. Demikian juga, rekonsiliasi dan penyembuhan seringkali tidak terjadi, bagaimanapun sabarnya kita atau bersungguh-sungguhnya kita.

Dalam saat menunggu Allah itu, pandangan kita berpaling kembali kepada luka-luka kita sendiri: apakah ada sesuatu dalam diri kita sendiri yang menghalangi persatuan kita dengan Allah? Kita dipanggil lagi untuk memperhatikan luka-luka kita – bukanlah semacam masochisme atau narcissisme, melainkan supaya belajar sesuatu yang baru dari luka-luka ini. Sebagaimana kita bertemu dengan situasi-situasi yang baru, bagian-bagian yang berbeda dalam luka-luka kita disentuh. Kita mungkin menemukan bagian-bagian yang belum tersembuhkan. Atau mungkin kita menemukan kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui kalau kita memilikinya.

Saat menunggu Allah dapat juga menyiapkan kita bagi satu saat yang paling sulit dalam pelayanan rekonsiliasi: saat-saat yang menakutkan ketika Allah tidak hanya diam bahkan kelihatannya tidak ada sama sekali di sana. Orang-orang yang selamat dari penyiksaan kadang-kadang menceritakan pengalaman absen yang mendalam ini. Tidak peduli bagaimana dalamnya iman mereka sebelumnya, pada saat penderitaan yang paling dalam mereka sungguh-sungguh sendirian – Allah tidak ada di sana. Teriakan Yesus yang menyedihkan pada salib pada saat ketika Allah kelihatannya absen (Mat. 27:26) mungkin satu-satunya tempat untuk menerima kesedihan yang menyesakkan itu.

Ketiga, kontemplasi dapat meningkatkan kemampuan kita untuk membayangkan perdamaian, “ciptaan baru” seperti yang disebutkan oleh Paulus (2 Kor. 5:17). Dalam bekerja mengatasi kekerasan, perdamaian lebih dari sekedar berhentinya konflik. Melainkan seperti yang kita lihat, ini merupakan suatu tempat baru yang cukup berbeda dari apa yang kita harapkan sebelumnya. Menunggu dan mengamat-amati dapat membuat kita menjadi peka akan gerakan-gerakan rahmat yang sekecil apapun. Jadi kontemplasi menyediakan bagi kita sebuah jalan menuju ke masa depan.

Latihan kedua dari perwujudan spiritualitas rekonsiliasi adalah mengadakan ruangan yang aman dan ramah. Ruangan ini merupakan tempat dimana para korban dapat berdiam untuk menggali luka-luka mereka dan mulai membayangkan masa depan yang berbeda. Ruangan ini baik bersifat fisik maupun sosial. Komisi Rekonsiliasi dan Kebenaran Afrika Selatan dimaksudkan untuk hal seperti ini dimana para korban dapat berbicara tentang kebenaran tanpa rasa balas dendam.

Pertama-tama tempat ini harus aman yaitu dimana para korban tidak akan dilukai lagi. Karena luka-luka ini pada dasarnya adalah pelanggaran yang fundamental dari rasa percaya maka rasa aman harus sedemikian rupa sehingga pelanggaran ini dapat disembuhkan kembali, kepercayaan dipulihkan dan orang-orang dihubungkan kembali dengan keluarga umat manusia.

Dalam mengadakan ruangan yang aman, para pelayan rekonsiliasi menyiapkan para korban secara baru bagi pengalaman kesetiaan Allah. Hal ini merupakan dasar perjanjian, rasa memiliki, percaya kalau di dunia ini seseorang boleh berani untuk berharap lagi. Kehadiran yang tetap dari mereka yang bekerja dalam rekonsiliasi (kesetiaan yang dipelihara oleh kedisiplinan akan kontemplasi) memungkinkan para korban untuk menceritakan kisah-kisah mereka tanpa dipotong atau dibenarkan, untuk mengalami seseorang yang mendampingi mereka dan yang tidak meninggalkan mereka, untuk memiliki seseorang yang tidak akan melenyapkan kemarahan mereka atau tangisan mereka.

Ruangan ini harus juga ramah. Pertama-tama ini berarti bahwa keramahtamahan yang ditawarkan harus sebahasa dengan pengertian para korban. Ini adalah ramah tamah dalam pengertian mereka bukan dalam pengertian mereka yang menyampaikannya. Ini harus diperhatikan secara khusus ketika ada perbedaan budaya antara para korban dan mereka yang akan membantu mereka. Kedua keramahtamahan berarti korban dihargai, bahwa kemanusiaan korban diteguhkan kembali bahkan kalau hal ini telah diperkecil oleh trauma atau perbuatan kejahatan. Keramahtamahan bukanlah sebuah sarana untuk tujuan lain melainkan sesuatu yang penting dalam hakekatnya sendiri. Ketiga, pengalaman keramahtamahan dapat menyiapkan jalan bagi pengalaman keramahtamahan Ilahi – anugerah yang kita sebut rahmat. Rahmat adalah saat ketika penyembuhan luka-luka batin terjadi, ketika kemanusiaan dipulihkan kembali, ketika citra Allah (Kej. 1:27) dalam diri korban berkilau kembali.

Kisah biblis yang agung tentang mengadakan tempat yang aman dan ramah adalah ketika Yesus dan para rasul makan pagi di tepi pantai (Joh. 21:1-19). Dalam kisah itu, Yesus menyiapkan sarapan bagi para rasul. Selama makan, yang mana Yesus menyiapkannya dari ikan yang dibawaNya dan yang dibawa para rasul, Yesus tidak mengatakan sepatah katapun. Ini menimbulkan suasana yang aman dan ramah. Hanya setelah makan pagi Ia berpaling kepada Simon dan bertanya tiga kali apakah Simon mencintai Yesus. Pertanyaan sebanyak tiga kali ini tidak menegangkan Simon. Ini mengingatkan ia akan saat lain, tidak seberapa lama, ketika di sekitar api unggun di tempat lain ia bahkan menyangkal mengenal Yesus. Tetapi setiap kali ia meneguhkan kembali cintanya bagi Yesus, Yesus memberinya sebuah perutusan untuk memelihara domaba-dombaNya. Yesus menunjukkan kepercayaanNya kembali dalam diri Petrus dengan mengutusnya kepada pengikut-pengikutNya yang paling rapuh. Sebagaimana Yesus menghubungkan kembali Tomas dengan para rasul dalam kisah yang terdahulu maka sekarang Ia melakukan hal yang sama terhadap Simon.

Kesimpulan

Rekonsiliasi adalah teriakan dunia kita di jaman ini. Dan agar hal ini terjadi, kita harus sungguh-sungguh berakar secara mendalam pada spiritualitas yang akan menopang kita dalam pekerjaan yang sulit ini. Sebuah jalan penting untuk masuk ke dalam spiritualitas itu adalah melalui luka-luka batin kita sendiri, yang mungkin akan menuntun kita kepada luka-luka Kristus yang menyembuhkan. Dua latihan rohani yang akan membawa kita mencapai hal itu adalah kedispilinan dalam menjalankan doa kontemplatif dan mengadakan ruangan yang aman dan ramah bagi sesama. Tentu saja ada banyak segi lain tetapi di sini kita harus memulainya.

Robert Schreiter, C.PP.S.


NB.: Artikel ini diterbitkan di Buletin no. 123, 2004 dari UISG (Persatuan Internasional Para Pemimpin Jendral), Roma.

svd.jpic@verbodivino.it
http://www.svdcuria.org/public/jpic/index.htm

Robert Schreiter, C.PP.S., mengajar teologi pada Catholic Theological Union di Chicago (AS),dan di Universitas Nijmegen, Belanda. Buku-buku dan karangan-karangannya tentang rekonsiliasi telah muncul dalam berbagai bahasa. Ia juga menjadi anggota dewan jendral dari Serikat Misi Darah Mulia.

Bahan asli dalam bahasa Inggris